Berita

Dua Mantan Rusak Kemenangan Liverpool

Mantan pertama yang dimaksud adalah sosok Rafael Benitez. Dalam laga pekan 7 Liga Primer antara Newcastle vs Liverpool, Benitez kembali bersua dengan bekas klubnya dahulu kala.

Benitez dan Liverpool punya cerita manis tentang sepakbola. Final Liga Champions 2004/05 adalah menu utamanya. Liverpool yang kala itu dibeeut pelatih asal Spanyol itu, melakukan salah satu comeback yang paling bersejarah dalam dunia sepakbola.

Di final itu, awalnya The Reds tertinggal tiga gol pada babak pertama dari AC Milan. Ajaibnya mereka mampu menyamakan kedudukan, adu pinalti dan akhrinya laga dimenangi Steven Gerrard dan kolega. Peristiwa itu disebut “Miracle of Istambul” atau keajaiban di Istambul, merujuk kota Istambul, Turki dimana final itu digelar.

Setelah final yang heroik nan dramatis itu, apesnya Liverpool tidak terlalu cemerlang. Benitez memang sempat membawa mereka ke final Liga Champions 2006/7, tetapi Milan berhasil membalaskan dendamnya.

Meski pernah merajai Eropa, bersama Benitez, mereka belum pernah juara Liga Primer Inggris, sesuatu yang sebenarnya sangat-sangat-sangat didambakan oleh kopites di seluruh dunia.

Kini setelah angkat kaki dari Anfield sejak tahun 2010 dan berpetualang ke Inter, Chelsea, Napoli dan Real Madrid, dia kembali ke Inggris bersama Newcastle United.

Banitez melatih The Magpies sejak pertengahan musim 2015/16, ketika tim tersebut kritis dan diujung dimulut degradasi. Meski pada akhirnya tak mampu menyelamatkan Newcastle dari degradasi, Benitez membawa timnya kembali ke Liga Primer musim ini.

Racikan Benitez terhitung lumayan ampuh untuk tim yang baru promosi. Hingga pekan ketujuh, Newcastle mengumpulkan 10 poin dan berada di peringkat sembilan klasemen.

Pada masa Benitez ini Newcastle merombak skuat. Dia menguatkan aroma Britania dan tentunya Spanyolisasi, setelah sebelum-sebelumnya Newcastel sangat lekat dengan pemain asal Prancis dan Eropa daratan.

Nama-nama seperti pemain asal Inggris seperti Jamaal Lascelles, Dwight Gayle, Jonjo Shelvey atau Isaac Hayden menjadi tulang punggung baru Newcastle, setelah tiada lagi nama Moussa Sissoko, Giorginio Wijnaldum atau Yoann Goufrann.

Jonjo Shelvey dan Rafa Benitez, menggagalkan kemenangan Liverpool.

Bukan laga besar memang, Newcastle yang diasuh Benitez dan menjamu Liverpool di St. James Park Stadium justru laga yang lebih menarik diulas tentang romansa historis antar Benitez-Liverpool kini. Namun, meski penuh romantisme, Benitez tidak sudi memberi kelegaan bagi skuat Liverpool untuk merengguk kemenangan.

Liverpool seperti biasa, tampil trengginas meski tidak memainkan Roberto Firmino sebagai striker. Philippe Coutinho yang sempat bermasalah dengan isu transfer, dimainkan sejak menit pertama.

Gol pertama dalam laga ini dicetak dengan spektakuler oleh Coutinho. Dia mencetak golazo itu pada menit 29. Gol Coutinho itu sah saja diistilahi sebagai super sunday goal yang berkelas dan sulit dilakukan oleh sembarang orang. Penyebutan kata “super”untuk gol Coutinho, barangkali adalah pujian bagi serangan Liverpool yang sangat mengerikan.

Namun, kecerobohan lini belakang tim asuhan Jurgen Klopp harus terbayar mahal. Joselu Mato menggetarkan jala Simon Mignolet pada menit 36, setelah lolos jebakan offside. Gol mantan pemain Real Madrid Castilla ini berbau keberuntungan. Belum sempat dia menendang, bola yang coba disapu Joel Matip justru kena kakinya dan menggelinding pelan indah tanpa mampu digapai Mignolet.

Gol ini disebut sebagai sunday league defending, yang biasa muncul dari liga kasta bawah Inggris. Barangkali gol mudah itu merujuk pada bobroknya lini belakang Liverpool dalam mengantisipasi bola panjang dan membuat perangkap offside.

Asis untuk gol Joselu juga datang dari mantan pemain Liverpool, Jonjo Shelvey. Dia bahkan merupakan pemain didikan akademi The Reds. Umpan panjang pemain berkepala plontos itu membelah pertahanan Liverpool dan ditambah ketidaksigapan duet Lovren-Matip, membuat keinginan meraih kemenangan rusak sudah. Kegembiraan Liverpool pekan ini ditunda oleh dua mantan mereka sendiri.

Statistik:
Newcastle v Liverpool
Penguasaan bola: 32% – 68%
Total tendangan: 6 – 11
Tendangan tepat sasaran: 5 – 2

Sumber foto: independet.co.uk dan expressandstar.com.

Click to comment

Leave a Reply

Terpopuler

To Top