Berita

Tak Harus Cantik Untuk Dikagumi (Spanyol vs Italia)

Judul artikel ini lebih pantas masuk ke rubrik yang membahas persoalan yang berfokus pada informasi-informasi kecantikan dan umumnya digandrungi kaum hawa. Namun, apa yang terjadi di laga antara Spanyol vs Italia di Grup G, pada lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2018 (3/9/17), punya korelasi dengan judul diatas. Teruntuk, kesebelasan Italia yang dijejal oleh Spanyol dengan tiga gol tanpa balas.

Italia sebenarnya menatap laga itu dengan optimisme tinggi. Disamping rekor tak terkalahkan sepanjang kualifikasi (Piala Dunia dan Euro) sejak tahun 2006, mereka juga menatap laga yang berlangsung di Santiago Bernabeu beberapa waktu lalu itu berbekal poin yang sama dengan tuan rumah Spanyol (16).

Dari statistik, laga seakan berjalan tak terlalu jauh dari kata seimbang. Spanyol menguasai “hanya” 55% bola, tidak terlalu tinggi, sedangkan presentase 45% menjadi milik Italia. Jumlah tendangan yang dilakukan juga tidak begitu beda jauh, 12 berbanding 8. Bahkan untuk shoots on target (tendangan tepat sasaran), kedua tim sama-sama mengoleksi 4 buah.

Yang jadi pertanyaan, kenapa bisa skor yang muncul adalah 3-0 untuk kemenangan Spanyol, meski disatu sisi statistik relatif seimbang? Ternyata taktik dan pendekatan antara dua tim ini yang menjadi pembeda.

Pelatih Spanyol, Julen Lopetegui, sebelum laga itu memang berlangsung memprediksi Italia akan bermain dengan cara tidak biasa. Italia akan bermain ofensif dan besar kemungkinan memainkan sepakbola cantik nan menawan melawan Spanyol. Tentu mengejutkan sekali, Italia yang identik dengan gaya bertahan, justru terlewat pede-nya mau bermain menyerang melawan Spanyol, si rajanya permainan ofensif dan menawan satu dekade akhir ini.

Faktanya prediksi Lopetegui benar. Italia dibawah komando allenatore anyar, Giampiero Ventura memainkan skema 4-2-4 untuk menjegal tiki taka Spanyol di Santiago Bernabeu. Tetapi disinilah letak blunder seorang bernama Ventura. Bekas pelatih Torino itu seakan menutup mata bahwa lini tengahnya yang cuma diisi Marco Verratti dan gladiator tua, Daniele De Rossi akan berhadapan dengan sekumpulan gelandang kelas dunia seperti Andres Iniesta, Sergio Busquets, Koke dan tentu saja Isco Alarcon.

FPL-offside-id

Benar saja Italia tidak berkutik. Lini tengah mereka yang sudah kekurangan orang (dan sudah jelas kalah kualitas) harus beradu dengan lini tengah Spanyol yang sangat kuat. Formasi 4-6-0 yang biasa disebut formasi dengan penyernag palsu atau false nine, digunakan Lopetegui agar Matador, julukan timnas Spanyol memastikan pertarungan di lini tengah menjadi milik mereka.

Dominan di lini tengah sama artinya memegang kendali pertandingan di lapangan dan itu benar-benar dimanfaatkan Spanyol. Isco yang akhirnya meraih gelar man of the match, terlihat seperti orang yang sedang memberi pelajaran kepada pemain-pemain Italia bagaimana bermain sepakbola. Isco begitu dahsyat. He was too damn good ! Saking asyiknya Isco, sampai-sampai dia berhasill mengolongi Marco Verratti, yang disebut sebagai gelandang terbaik Italia dan titisan Andrea Pirlo.

Kemenangan Spanyol semakin tiket ke Rusia untuk jatah mereka, yang disisi lain membuat Italia harus berjuang melalui play-off andai hanya menjadi peringkat dua di Grup G.

Italia tampak akan finis diposisi dua, setelah mereka mampu bangkit dengan menuai kemenangan melawan Israel. Namun kemenangan atas Israel itu tak mampu membendung suara sumbang dan kekecewaan publik Italia, yang terlanjur dimuntahkan pasca kekalahan telak dari Spanyol. Giampiero Ventura dianggap orang yang naif dan besar kepala dengan memimpikan Italia bermain ofensif.

Selain pendekatan ofensif dan taktik yang asing di Italia (4-2-4), cara Ventura memaksimalkan Marco Verratti juga menjadi pergungjingan hangat. Verratti yang punya kemampuan umpan dan visi yang baik, malahan terlalu dibebankan menjadi gelandang penahan serangan lawan. Kenaifan Ventura membuahkan batunya kala melawan Spanyol, Verratti seakan terisolir karena tidak diberi suport yang memadai dari rekan-rekannya.

Ventura juga terlalu percaya diri dengan memasang empat pemain di lini depan. Maksud hati mengandalkan serangan sayap dengan bertumpu pada Lorenzo Insigne dan Antonio Candreva, tidak terwujud akibat suplai dari lini tengah yang kalah kualitas dan kuantitas dari Spanyol.

Duet penyerang Andrea Belotti dan Ciro Immobile juga tak lepas menjadi poin kritik untuk Ventura. Semua orang tahu kalau Belotti dan Immobile sama-sama betipe poacher atau seorang penunggu bola di kotak penalti. Tidak adanya striker yang rajin menjemput bola atau gelandang serang, tentu membuat ruang antara lini tengah dan lini depan tidak bertuan dan tidak punya perantara pembawa bola. Alhasil, Italia sering mengandalkan serangan dari sisi sayap yang sudah pasti akan mudah terbaca oleh lawan.

Italia kini dalam situasi tidak nyaman. Bermaksud ingin merubah penampilan dari tim yang monoton dan defensif, menjadi tim yang jauh lebih cantik dengan bermain ofensif dan menawan, apa daya hasil di lapangan tidak sesuai harapan. Fantasi Giampiero Ventura dengan formasi 4-2-4 dan Italia yang tampil memukau, seketika diberangus habis kala bertemu Spanyol.

Suara-suara yang menginginkan Antonio Conte kembali melatih Gli Azzurri, julukan Italia kembali berdengung. Selain prestasi yang tidak buruk di Euro 2016 lalu, pendekatan defensif dan formasi andalan dengan tiga bek yang ia terapkan dinilai lebih berhasil ketimbang idealisme khas Ventura.

Bagi tim yang sudah berpuluh-puluh tahun memainkan sepakbola defensif dan jargon catenaccio telah mendarah daging, tak perlu rasanya berpaling dan mengikuti tren sepakbola dunia yang memainkan strategi ofensif. Italia seharusnya tetaplah bermain membosankan, defensif dan tidak cantik sama sekali karena justru itu jati diri sepakbola mereka.

Daripada ingin memaksakan Italia untuk tampil cantik (menyerang), justru disisi lain hasil kurang memuaskan dan bahkan kekalahan yang didapat, kenapa tidak tampil apa adanya saja dengan sepakbola bertahan dan membosankan. Lagipula dengan cara main yang tidak cantik saja (bahkan cenderung jelek), mereka bisa juara dunia dan tetap dikagumi oleh banyak orang.

Bagaimana dengan anda mister Ventura? Semoga membaca tulisan ini juga ya, hehe.

UP Watch
Click to comment

Leave a Reply

Terpopuler

To Top