Cerita

Selamat Datang Kembali Jack Wilshere

Sepakbola Inggris penuh nuansa glamor, dengan Premier League-nya. Tidak ada keraguan akan hal itu. Kompetisi teratas di negeri Pangeran William itu memang jadi yang terpopuler sejak era 2000an hingga kini.

Bayaran yang berlipat ganda dan kultur sepakbola yang sangat kental di Inggris, seakan menjadi magnet bagi pemain-pemain dari seluruh dunia untuk hijrah kesana.

Tetapi selalu ada hitam dan putih dihampir setiap fenomena di dunia. Tak terkecuali di Premier League. Disatu sisi, banyaknya foreigners (pemain asing) dari luar Britania tentu menaikan tensi dan gengsi Premier League daripada liga-liga lain di Eropa. Tetapi disisi lain, banyaknya pemain asing itu ternyata bisa menjadi menghambat perkembangan pemain lokal.

Mengatasi hal demikian, asosiasi sepakbola Inggris, FA mengakalinya dengan aturan homegrown players untuk klub di Premier League. Aturan ini menganjurkan klub mendaftarkan 8 pemain, terlepas dari umurnya atau kewarganegaraannya, sudah terdaftar dalam kurun minimal tiga musim di klub yang berada dibawah naungan FA atau FA Wales, sebelum usianya mencapai 21.

Munculnya talenta muda didikan klub-klub Premier League merupakan sedikit efek positif dari berlakunya aturan tersebut. Mengorbitnya seorang Jack Wilshere adalah salah satu contohnya.

Wilshere bisa dikatakan gelandang paling berbakat dari Arsenal, pasca kemunculan Cesc Fabregas. Wilshere bahkan menjadi debutan termuda, meluluhkan rekor Fabregas. Wilshere menjalani debut bersama The Gunners pada usia 16 tahun 256 hari pada musim 2008/09.

Walau begitu jalan berliku harus ia lalui, ketika dipinjamkan ke Bolton Wanderers pada musim tengah musim 2009/10, karena minim waktu bermain. Tetapi karena bermain baik di Bolton, membuat masa depannya bersama Arsenal tergaransi.

Setelah peminjaman itu, Wilshere menjadi bagian penting di lini tengah Arsenal dan juga dipanggil timnas senior Inggris. Musim terbaik Wilshere adalah 2010/11, dimana ia bermain di 35 pertandingan liga.

Permainan Wilshere yang elegan juga tersaji di Liga Champions, kala Arsenal bersua dengan raksasa Spanyol, Barcelona musim 2010/11. Bahkan Xavi Hernandez, salah satu gelandang terbaik yang pernah ada di dunia, tak segan memuji penampilan Wilshere yang menurutnya “tidak bergaya Inggris”.

Maksud dari legenda Barcelona itu adalah gaya main Wilshere yang sangat bertekhnik dan punya visi, tidak seperti gelandang dari daratan Inggris kebanyakan. Sebagai gelandang tengah, Wilshere memang dibekali hal tersebut.

Selain itu dia bisa bermain sebagai gelandang serang, sayap kiri dan juga gelandang bertahan pembagi bola (holding midfielder). Namun ada awan mendung yang selalu menjadi penghalang bagi sinar terang Wilshere, yakni cedera.

Pemain kelahiran Stevenage itu sangat mesra dengan cedera. Berkali-kali terkapar dan harus banyak absen dari pertandingan akibat cedera. Sudah belasan kali pemain yang pernah kedapatan merokok oleh Wenger ini menerima cedera yang serius.

Salah satu kejadian paling mengenaskan adalah musim 2011/12, dimana dia cedera engkel dan rehat selama 14 bulan. Otomatis musim itu dia tak memainkan satu match pun, baik bersama Arsenal atau bareng skuat The Three Lions (termasuk Euro 2012).

Pasca cedera parah itu, kaki Wilshere bak sebuah kaca yang rentan pecah. Cedera silih berganti hingga membuat performa pria 172 cm ini perlahan menurun dan tak selalu dimainkan Wenger. Uniknya, dia tidak melewatkan Piala Dunia 2014 dan Piala Eropa 2016, walau banyak pihak mengernyitkan dahi tanda tak suka pemanggilan dirinya ke timnas Inggris.

Kemerosotan paling tajam adalah musim 2016/17 lalu. Pasca peminjaman ke Bolton, dia untuk kedua kalinya tidak dibutuhkan Arsenal. Dia terkatung-katung musim lalu, karena tak masuk rencana Wenger dan kesulitan mencari klub yang bersedia menampungnya (efek rekor cederanya).

Peminjaman sesi kedua dalam karirnya tadalah ke AFC Bournemouth, meski AC Milan juga serius meminatinya.

Melakoni 27 laga di Bournemouth, angka yang tidak buruk untuk “si kaki kaca” seperti Wilshere.

Meski kembali terbuang, Wilshere seakan mampu terlahir kembali. Performa dia mengalami peningkatan bersama The Cherries, julukan Bournemouth. Wilshere bahkan dua kali menjadi pemain terbaik pilihan klub untuk November dan Desember 2016.

Namun sayang seribu sayang, cedera parah (paruh musim kedua) lagi-lagi memaksa dirinya batal untuk mekar kembali secara sempurna di Bournemouth. Tercatat dia cuma bermain 27 kali untuk Bournemouth, angka yang sebenarnya lumayan baik untuk pasien “langganan” tim medis tersebut.

Sekembalinya di Arsenal musim 2017/18 ini, jelas tak mudah dia kembali memperoleh tempat. Lini tengah London Reds sudah riuh sesak. Granit Xhaka, Aaron Ramsey, Mohamed Elneny dan Francis Coquelin menjadi opsi yang lebih dipertimbangkan Wenger daripada Wilshere.

Peluang dia main di tim utama masih terbuka, meski hanya sebagai cadangan dan kabar baiknya, dia tidak kembali dipinjamkan atau bahkan dijual.

Dia tetap bertahan di Arsenal, dengan konsekuensi meningkatkan kebugaran serta bersedia bermain untuk tim Arsenal Reserves. Untungnya kebugaran Wilshere berangsur membaik.

Banyak pihak meragukan Wilshere kembali ke performa terbaik, tetapi sebuah malam di Belarusia beberapa hari lalu, sedikit memberikan harapan akan adanya perubahan.

Wilshere masuk sebagai starting line-up kala Arsenal bertandang ke BATE Borisov di lanjutan Grup H Liga Eropa (29/9/17). Stadion Borisov-Arena menjadi saksi bisu permainan apik pemain yang dijuluki oleh Fabio Capello sebagai “future of England football”. Pertandingan itu adalah kedua kalinya dia diturunkan selama 90 menit di musim ini.

Laga itu berkesudahan 2-4 untuk kemenangan Arsenal. Gol-gol Arsenal diciptakan oleh Theo Walcott (menit 9 dan 22), Rob Holding (25) dan Olivier Giroud (49). Wilshere mengemas satu asis untuk gol pertama Theo Walcott. Dia bermain sebagai satu dari dua gelandang serang dalam formasi 3-4-2-1.

Dimainkannya Wilshere memang tak lepas dari absennya playmaker andalan Arsenal, Mesut Oezil. Tetapi dengan penampilan yang oke tersebut, dia kini bisa menjadi opsi spesial bagi Wenger.

Pasca laga tersebut Arsene Wenger sempat mengatakan, “saya kira dia (Wilshere) dalam jalan yang tepat untuk kembali ke performa terbaik dan dia sudah menunjukkannya malam ini”, seperti dikutip dari London Evening Standard.

Tahun ini adalah tahun menuju Piala Dunia pada 2018. Sudah barang tentu setiap pemain Inggris berhasrat menunjukkan performa terbaik agar dilirik oleh Gareth Southgate.

Belum terlambat bagi Wilshere untuk bangkit dari masa kelamnya. Memang hanya satu pertandingan, masih perlu pembuktian lagi dari pemain berusia 25 tahun ini. Tetapi andai terus menunjukkan progresifitas performa, dia bisa saja kembali menjadi pemain penting untuk The Gunners dan kembali ke timnas Inggris.

Seperti kata Wenger, Wilshere diibaratkan perpaduan antara Spanyol dan Inggris dalam satu bentuk. Pemain bertekhnik tinggi layaknya orang Spanyol, tetapi memiliki hati dan keberanian seperti orang Inggris.

Dengan performa yang lumayan memikat seperti laga vs BATE, apakah pertanda Jack Wilshere siap bangkit lagi?

Hati dan keberanian Inggris adalah tentang prinsip pantang menyerah dan berjiwa kesatria, layaknya prajurit perang. Jika prinsip itu konsisten diamalkan oleh Wilshere, rasa-rasanya dia berpeluang besar untuk membangkitkan karir dan kembali lagi ke performa terbaiknya. Semoga masa depan sepakbola Inggris itu tidak terganggu cedera lagi dan kita bisa mengucapkan; “selamat datang kembali, Jack Wilshere!”.

Sumber foto: twitter @JackWilshere, skysports.com dan mirror.co.uk.

Click to comment

Leave a Reply

Terpopuler

To Top