Half Time

Cassano: Melegenda karena Kontroversinya

Dibanding Ronaldo atau Messi, mungkin Antonio Cassano bukan nama yang  melekat dalam pikiran penggila sepakbola pada umumnya. Tetapi namanya akan selalu dikenang akibat kontroversi yang begitu banyaknya. Berikut beberapa carita tentang lika-liku karir pria berjuluk Peterpan tersebut.

Rekor pemain muda termahal

Lahir di Bari pada tanggal 12 Juli 1982, Antonio Cassano mulai kenal lebih dalam dunia sepakbola, manakala gabung akademi AS Bari. Selama dua musim bermain untuk Bari (1999/00 dan 2000/01), bakat besarnya bermain bola sudah menuntut perhatian publik sepakbola Italia.

AS Roma, yang sedang membangun kekuatan besar dan baru saja menjuarai Serie A, sudi membayar 30 juta euro di musim 2001/2002. Bergabungnya pemain berjuluk Fantantonio itu adalah rekor pemain muda termahal kala itu. Kalau untuk era sekarang, mungkin harga Cassano sudah “setara” dengan harga Ousmane Dembele (130 juta euro) yang dibeli Barcelona dari Dortmund.

Namun, perangai yang buruk itu…

Bergabung dengan klub sebesar Roma tentu menjadi impian bagi banyak remaja di Italia. Berada di locker room yang sama dengan pemain legendaris seperti Francesco Totti tentu merupakan sebuah kebanggaan. Tetapi perangainya yang urakan dan susah diatur seakan lebih menonjol daripada bakatnya bermain bola. Musim pertamanya di Roma langsung diwarnai konflik dengan Fabio Capello, pelatih Roma kala itu.

Tak cukup dengan pelatih, terhadap manajemen klub bahkan sampai-sampai dengan Francesco Totti pun, Cassano berani memunculkan friksi. Meski dua kali dianugerahi pemain muda terbaik Serie A 2001 dan 2003 serta mengantar Roma juara Supercoppa Italiana 2001, cerita tentangnya lebih dominan tentang sikap buruknya itu. Tetapi ini barulah awal kegilaan seorang Antonio Cassano!

Puncak hedonisme bersama Madrid

Setelah berseteru dengan Roma terkait perpanjangan kontrak, Cassano hijrah ke Real Madrid pada bulan Januari 2006 dengan biaya transfer hanya 5 juta euro. Real Madrid melakukan perjudian besar dengan membeli orang ini. Meski diakui punya bakat hebat, namun perangai yang buruk bisa menjadi bom waktu yang suatu saat bisa merusak keharmonisan tim.

Berada di Los Blancos, Cassano sempat kembali berseteru dengan Fabio Capello yang menjadi pelatih Real Madrid sejak musim 2006/07. Untungnya, fantantonio tidak membuat keonaran berarti yang merusakn keharmonisan internal Real Madrid. Tetapi tunggu dulu…

Cassano malahan menunjukkan perangai buruknya yang lain; kebiasaan makan seenaknya dan berpetualang cinta. Dia mengalami kegemukan badan. Bagi atlet profesional, menjaga berat badan ideal adalah kunci kesuksesan. Namun dia menabrak “norma” itu. Dia hobi makan junk food serta sering mabuk-mabukan hingga pagi.

Berganti-ganti pasangan menjadi cerita nyleneh lain Cassano. Bekal sebagai pemain Madrid, salah satu klub terpopuler di dunia, membuatnya lebih mudah mencari wanita dan melampiaskan birahi dalam dirinya.

Gaya hidup hedonis yang hanya mementingkan kesenangan semacam dua hal tersebut membuat karirnya amblas. Meski sempat memperoleh gelar La Liga musim 2006/07, dia minim kontribusi. Hingga kemudian ia dibuang ke Italia.

Sebuah transfer yang sia-sia.

Karir yang Naik Turun di Italia

Diangkut Sampdoria pada musim 2007/08, Cassano perlahan bangkit kembali. Dia menjelma menjadi andalan klub asal kota Genoa tersebut, bahkan menjadi wakil kapten.

Duetnya bareng Giampaolo Pazzini musim 2009/10 tentu yang paling diingat fans Sampdoria. Mereka punya kontribusi besar mengantar Il Samp menempati posisi keempat di klasemen akhir Serie A. Sampdoria melaju ke play-off Liga Champions, meski disingkirkan Werder Bremen kemudian.

Tetapi, lagi-lagi Cassano masih berulah. Awal musim 2010/11,  tidak tanggung-tanggung dia bertikai dengan presiden Sampdoria, Riccardo Garrone. Kontraknya diputus dan bergabung ke Milan ditengah musim tersebut. Total 38 gol ia dicetak untuk Sampdoria.

Antonio Cassano berguna ketika Zlatan Ibrahimovic absen dan menggantikannya dengan baik. Dia untuk pertama kali merasakan nikmatnya scudetto bersama AC Milan yang juara Serie A musim 2010/11.

Musim kedua di Milanello berjalan apik bagi Cassano. Namun, nasib sial menimpanya ketika kena serangan jantung ringan pasca laga versus Roma, Oktober 2011. Absen selama enam bulan lebih, membuat Cassano tidak maksimal di musim itu. Mirisnya, bagai orang yang tidak tahu terimakasih setelah dirawat dengan baik oleh Milan, ririnya malah memberontak.

Dibarter dengan Pazzini, mengawali langkah pembelotannya ke Inter. Dia pindah ke rival karena kecewa dengan AC Milan yang menjual Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva di musim 2011/12. Di Inter, dia juga kembali disibukkan dengan urusan non-teknis. Andrea Stramaccioni, pelatihnya kala itu itu menjadi orang kesekian yang ditabuh genderang perangnya oleh Cassano.

Setelah dari Inter, dia berkelana ke Parma, Sampdoria dan kembali mengundang tanda tanya awal musim ini di Hellas Verona.

Cassano yang tidak berhenti membuat sensasi dengan kontroversinya.

Awalnya dia dikontrak Hellas Verona di musim 2017/18 ini. Klub yang baru promosi tersebut yakin, pengalaman Cassano sangat berguna dan dia juga akan berpasangan kembali dengan Pazzini.

Tetapi lagi-lagi kontroversi kembali muncul dari sang Peterpan. Pada 10 Juli 2017 dia tanda tangan kontrak, kemudian 18 Juli menyatakan ingin pensiun karena kangen keluarga dan kampung halaman. Tapi pada 18 Juli kemudian, dia membatalkan niatan pensiun itu karena ingin bermain di Verona. Anehnya, 27 Juli, Cassano resmi putus kontrak dengan Verona! Gila betul orang ini? Iya.

Kini dia sedang tanpa klub, apakah klub Liga 1 Indonesia ada yang minat padanya? Silahkan.

*****

Antonio Cassano memang gila, tak terduga dan oenuh kontroversi yang sekiranya melebihi seorang Mario Balotelli sekalipun.

Jiwa pemberontak dan tak sudi diatur, membuat karirnya semacam roller coster yang naik turun dengan cepat. Perjalanan bersama tim nasional Italia pun sama. Dicoret dari Piala Dunia 2006 dan 2010, tetapi menjadi andalan di Euro 2012.

Karakter Cassano terbentuk akibat lingkungan masa kecilnya. Tumbuh di keluarga yang kekurangan didikan parental secara utuh (ayahnya pergi meninggalkan sang ibu begitu Cassano lahir). Cassano juga besar di wilayah yang miskin, Bari Vecchia.

Cassano, seseorang yang sembrono dan bodohnya menyia-nyiakan kesempatan bermain di klub sebesar Real Madrid, sementara ada jutaan orang lain di dunia ini yang bermimpi menggocek bola di rumput stadion Santiago Bernabeu yang megah itu. Andai dia punya sikap lebih baik, mungkin ceritanya akan lain. Tetapi ya begitulah kita mengenal dan mengenang sosok ini, Antonio Cassano, yang melegenda karena kontroversinya.

Sumber foto: metro.co.uk, sportskeeda.com dan twitter hellas verona

UP Watch
Click to comment

Leave a Reply

Terpopuler

To Top