Half Time

Lima Hal Yang Dipelajari Dari Pertandingan Swansea vs Manchester United

Foto: Hindustantimes.com

Delapan gol, dua kali cleansheets, dan masih banyak lagi fakta-fakta menarik dari dua pertandingan pembuka Manchester United. Ekspektasi dan harapan untuk melihat Man United kembali ke kodrat mereka yang seharusnya, tim penghuni papan atas klasemen sepertinya bisa terwujud. Memang masih terlalu dini untuk mengklaim kemenangan itu. Berikut ini lima hal yang patut dicermati sepanjang 90 menit pertandingan di Liberty Stadium, Wales.

Kedalaman skuat memudahkan Mourinho dalam meng-counter taktik lawan

Di musim keduanya bersama United, Mourinho kini memiliki banyak opsi untuk mengubah taktik dan menyesuaikannya sesuai dengan kebutuhan. Apa yang terjadi di kandang Swansea adalah buktinya. Setelah hanya mampu membobol satu gol, itupun beberapa detik sebelum babak pertama berakhir, Man United mampu mencetak tiga gol tambahan di 10 menit terakhir pertandingan. Menariknya lagi, tiga gol ini dicetak dalam selang waktu yang tidak terlalu jauh, hanya berselang dua menit untuk masing-masing gol. Kuncinya ada pada pergantian pemain yang dilakukan pria yang awal karirnya hanya menjadi penerjemah di Spanyol ini. Jose menarik keluar Marcus Rashford dan Juan Mata, mengganti keduanya dengan Marouane Fellaini dan Anthony Martial. Dua pemain ini menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh Mata dan Rashford. Martial, seperti kata Pangeran Siahaan lewat Twitter-nya adalah master of tight space, dan ini pernyataan yang tidak bisa dibantah lagi keabsahannya. Winger Prancis memang senang membawa dirinya ke dalam situasi sulit, tapi entah kenapa ia bisa melepaskan diri dengan mudah, meskipun tidak semulus pergerakan Messi tentunya. Golnya ke gawang Liverpool di musim perdananya bersama United, serta pergerakan tidak masuk akalnya di pertandingan pra-musim baru-baru lalu cukup untuk membuktikan pernyataan Pangeran Siahaan. Lalu opsi seperti apa yang bisa ditawarkan Fellaini? Begini. Sepanjang 75 menit pertandingan, hanya Nemanja Matic seorang diri yang menjadi tumpuan dan penyeimbang lini tengah United. Diperlukan satu tandem lagi yang bisa menghentikan serangan sporadis Swansea pada pertandingan itu, sehingga Mourinho memutuskan menurunkan Fellaini, menginstruksikannya mengacaukan serangan The Swans, agar Matic bisa lebih leluasa mendistribusikan bola ke pemain lain saat serangan balik. Jika ada satu alasan mengapa Mou mempertahankan Fellaini, salah satunya adalah karena hal tersebut.

Phil Jones reborn

Saat klub mengumumkan Victor Lindelof sebagai rekrutan anyar mereka, banyak yang berasumsi kalau karir Chris Smalling dan Phil Jones tidak lama lagi akan berakhir di United. Terlebih bagi Jones, yang sepanjang musim lalu lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang operasi akibat cedera. Musim 2017-18 bisa jadi titik balik peruntungan karir bagi Jones. Sulitnya Lindelof beradaptasi dengan kultur Premier League (yang diakui sendiri oleh Mourinho) membuat eks Blackburn lebih dipercaya sebagai tandem Eric Bailly di lini belakang. Yang terjadi kemudian adalah di luar perkiraan. Bersama Bailly, Jones menjelma menjadi karang yang membentengi gawang De Gea. Dalam dua pertandingan terakhir, Pemain yang dibeli pada tahun 2011 ini berhasil melakukan 3 kali tekel sempurna (akurasi 67%), 14 kali clearances (7 headed clearances), 14 intersep, memenangkan 10 duel dari total 12 kali, dan memenangkan aerial duel sebanyak 5 kali (source: premierleague.com). Ini adalah momentum bagi Jones. Hanya saja, cedera kambuhan bisa saja mengacaukan semuanya.

Berikan bola kepada Mkhitaryan!

Sebelum diboyong ke Old Trafford pada musim panas lalu, Mkhitaryan adalah king of assist di Bundesliga. Kepiawaiannya itu membuatnya diganjar sebagai pemain terbaik Bundesliga berkat 15 assists-nya di musim 2015/16. Tapi butuh waktu bagi Mkhitaryan untuk kembali menemukan ritme permainannya. Setelah sempat naik-turun di musim perdananya, kapasitasnya sebagai raja assist kini mulai terlihat lagi. Posisi sebagai nomor 10 mulai dipercayakan padanya, membuat Juan Mata untuk sekali lagi bermain melebar. Tebukti, dua pertandingan pembuka United, Miky sudah membukukan tiga assists. Pertandingan masih panjang. Selama Miky bermain di level permainan terbaiknya, assists adalah sebuah garansi dari kedua kakinya. Maka dari itu, berikan saja bolanya kepada Mkhitaryan! dan biarkan dia mengobrak abrik barisan pertahanan lawan.

Dua kaki Martial lebih berharga dari Ivan Perisic

Sebelum musim kompetisi bergulir, nama Anthony Martial santer diberitakan akan jadi alat tukar guling untuk memuluskan langkah Ivan Perisic bergabung dengan United. Dalam berbagai aspek, tak bisa dipungkiri kalau Perisic memiliki atribut yang tidak dimiliki Martial, ini jika kita berbicara tentang trackback, dan kemampuan bertahan gelandang FC Internazionale yang jauh lebih baik. Bagi saya, Perisic adalah Antonio Valencia versi upgrade, dengan add-ons menyerang dan bertahan yang sama baiknya. Tapi setelah melihat penampilan Martial, tidak ada satupun fans United yang menginginkan winger Prancis pindah dari klub. Sudah lebih dari satu dekade terakhir sejak klub mengorbitkan pemain yang piawai saat diturunkan dari bangku cadangan. Dan melihat sepak terjangnya di dua pertandingan pembuka liga, tidak ada salahnya menaruh ekspektasi dan membebankan label supersub kepada eks Monaco ini. Jika Perisic adalah Antonio Valencia yang sudah di-upgrade, Martial adalah Javier Hernandez ugrade level 99. Ia bisa muncul sebagai opsi alternatif saat barisan penyerang lainnya buntu dalam mencetak gol. Martial tidak hanya master of tight space, ia juga adalah pemain dengan master in the nick of time.

Red Army yang kembali berisik

Tidak ada hal yang paling menyebalkan selain menyaksikan tim kesayangan bermain layaknya medioker. Fans Manchester United harus menunggu selama setengah windu sebelum akhirnya merasakan kembali euforia itu. Tak lama setelah para Red Army melontarkan chants ’20 times’ pada pertandingan kontra Swansea, Peter Drury, komentator pertandingan mengeluarkan pernyataan yang sedikit menyentil dengan berkata ini adalah untuk pertama kalinya ia kembali mendengar fans United di stadion menyanyikan chant tersebut. November 2014 lalu, sebuah studi dilakukan untuk mengukur desibel suara dalam suatu pertandingan Premier League. Studi yang dilakukan dengan menggunakan aplikasi smartphone bernama Sound Meter itu mencatatkan fans Manchester United sebagai fans yang paling berisik, dengan tingkat intensitas suara hingga 167 desibel, disusul Stoke City dan Tottenham Hotspur di urutan kedua dan ketiga (sumber: Mirror.co.uk). Kembali bergemuruhnya chant 20 times adalah sinyal awal, Red Army akan semakin berisik sepanjang musim ini, tak peduli mereka bermain di kandang atau tandang. Ketika pemain ke-12 kembali ke lapangan, maka tak ada alasan lagi bagi Red Devils untuk tidak meraih gelar liga di musim ini.

Be careful. Be very careful…The lion is awake…

Artikel ini telah dipublikasikan di UCNews.

 

UP Watch
Click to comment

Leave a Reply

Terpopuler

To Top