Half Time

Mengingat Adriano: Sang Emperor dari Brasil

Brasil, nama sebuah negara tropis terletak di Amerika Selatan, yang pastinya tidak asing bagi telinga kita. Jika berbicara tentang Brasil, apa yang anda pikirkan? Sebagian besar orang umunya akan menjawab pertanyaan itu dengan “sepakbola”.

Memang tidak salah, Brasil pantas disebut negara sepakbola. Lima trofi Piala Dunia adalah jawaban tuntas akan hal tersebut. Mereka menjadi negara yang paling sering menahbiskan diri sebagai yang terbaik di dunia.

Tidak bisa dipungkiri, pesepakbola-pesepakbola hebat memang pernah dilahirkan dari tanah Samba. Pele, Garrincha, Socrates, Zico, Romario, Ronaldo, Ronaldinho, Kaka hingga yang terkini, Neymar Jr adalah bintang-bintang sepakbola dunia asal Brasil.

Kecintaan masyarakat Brasil terhadap sepakbola sangat tinggi, mungkin setara atau bahkan melebihi fanatisme terhadap agama. Sepakbola menjadi hal terpopuler dan digemari siapapun dari berbagai kelas masyarakat.
Disisi lain, Brasil adalah negara berkembang dan banyak masyarakatnya yang masih berkubang dalam kemiskinan.

Maka tak heran banyak sekali pemuda-pemuda di Brasil, yang bercita-cita menjadi pesepakbola profesional, demi merubah nasib hidup diri dan keluarganya menjadi lebih baik.

Salah satu yang berjuang dari bawah seperti adalah Adriano Leite Ribeiro, atau yang familiar disebut Adriano. Bagi yang baru tertarik pada dunia sepakbola, mungkin nama pemain sepakbola ini tidaklah melekat dalam ingatan.

Memang begitulah adanya karena Adriano terhitung “cuma mampir”, dalam gemerlapnya dunia sepakbola. Padahal pemain berjuluk L’Imperatore atau Si Emperor ini sempat digadang akan menjadi penyerang kelas dunia.

Karir Adriano mulai bersinar di Flamengo, klub profesional pertamanya. Pada musim 2000/01, musim debut profesionalnya tersebut dia sukses memikat beberapa klub besar dan Inter lah yang sukses menggaetnya.

Namun ternyata dia kesulitan beradaptasi di Italia, padahal dia sempat mencetak gol spektakuler pada pramusim 2001/02 kala bertandang ke Santiago Bernabeau melawan Madrid.

Dia dipinjamkan ke Fiorentina dan kemudian dijual ke Parma karena performanya yang tak kunjung membaik. Untung, di Parma justru sinarnya kembali terang dan membawanya kembali ke Inter pada tengah musim 2003/04.
Adriano mulai menapaki karir gemilang pada kesempatan keduanya di Inter. Dia bahkan mencetak hingga 28 gol di Serie A pada musim 2004/05.

Tapi sebenarnya pada musim tergemilangnya itu juga, sebuah peristiwa yang menikam ketenangan jiwanya terjadi. Ayahnya meninggal dunia. Semenjak tahun 2004 itu (meski masih bisa menyuguhkan penampilan bagus di lapangan), Adriano seperti orang yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.

Javier Zanetti mengutarakan peristiwa itu pada awal musim ini. Sang legenda Inter tersebut mengakui bahwa “kekalahan terbesar” di sepanjang masa hidupnya sebagai pesepakbola adalah kegagalannya menyelamatkan Adriano dari kubangan depresi akibat ayahnya meninggal.

Zanetti mengatakan, pada sebuah hari diawal musim 2004/05, Adriano tiba-tiba mendapat telepon dari Brasil. Isi percapakan telepon itu seakan sebuah kabar tentang kiamat kecil bagi kehidupannya. Ayahnya yang sangat peduli, mendukung karirnya dan menjaga dirinya agar selalu fokus pada sepakbola, telah meninggal.

Di ruang ganti Inter, setelah ia menerima kabar itu dirinya membanting telepon dan menangis. Sejak peristiwa itu juga, Zanetti bersama presiden Inter, Massimo Morratti sepakat bahwa mereka akan menempatkan Adriano selayaknya “adik” mereka sendiri dan selalu menjaganya dari dunia luar.

Tetapi apa daya, dia malah lepas kontrol. Dia mengalami depresi tinggi karena kehilangan sang ayah tercinta. Minuman keras dan rajin ke klub malam menjadi pelarian atas pikiran dan hatinya yang kacau. Gaya hidup tak sehat dan serampangan mulai menjadi kebiasaan bagi dirinya.

Akibatnya dia berkali-kali “disetrap” baik oleh klub maupun timnas Brasil atas tindakan yang sangat tidak disiplin itu. Inter lantas membuangnya ke Sao Paulo musim 2007/08 (sebagai pinjaman).

Semusim kemudian, kontraknya berakhir di Inter dan bergabung ke Flamengo. Uniknya, di mantan klub profesional pertamanya itu Adriano bangkit. Di Flamengo dia ikut ambil peran penting ketika menjuarai Campeonato Brasilero 2009.

Dia masih berusaha merevitalisasi karirnya di Italia. Musim 2010/11 Roma memberi kesempatan itu. Namun berat badan yang tak kunjung ideal membuatnya kesulitan bermain dan Roma memutus kontraknya jelang akhir musim itu juga.

 

Berat badan membuat Adriano gagal bangkit kembali di Italia.

 

Setelah melanglang buana ke berbagai klub hingga Miami United, dia resmi gantung sepatu pada 2016.
Namanya memang sempat tak terdengar pasca pensiun, hingga sebuah unggahan foto Adriano memegang senjata api membuatnya kembali menjadi perbincangan hangat.

Adriano diduga bergabung dengan geng narkoba di Rio de Janeiro, Brasil sana. Kehidupan Adriano memang sebenarnya dekat dengan kejahatan. Dia tumbuh hidup di favela atau yang biasa disebut perkampungan kumuh dan banyak kasus kriminal di lingkungan tersebut.

Adriano yang telah berubah. Dari pesepakbola menjadi gangster.

Diawal karirnya, Adriano tak lekat dengan kehidupan yang aneh-aneh. Karena berkat ayahnya lah dia bisa fokus berkarir. Namun semenjak ayahnya mangkat lah, arah hidupnya berubah menuju lembah hitam dan karirnya juga hancur lebam.

Hal ini tentu sangat disayangkan. Padahal dunia sepakbola mengenal Adriano sebagai talenta yang diramalkan menjadi striker mengerikan.

Perawakan yang tinggi, bertenaga, tendangan kaki kiri yang maut serta dibekali skill mumpuni adalah segala atribut yang bisa membuatnya sukses menjadi bintang sepakbola dunia.

Menurut Zanetti, seorang seperti Adriano adalah gabungan antara Ronaldo Lima dan Zlatan Ibrahimovic sekaligus. Memang tak salah ucapan mantan kapten Inter tersebut. Meski berbadan kekar nan tinggi, tapi skill olah bolan Adriano juga yahud. Dulu semasa di Inter, duet Adriano dan Ibrahimovic sudah barang tentu menjadi momok bagi setiap bek-bek di Serie A.

Nama Adriano pastinya juga lekat bagi anda yang pernah atau masih bermain Playstation 2 (PS 2). Nilai tendangan untuk Adriano dalam gim Winning Eleven (WE) atau Pro Evolution Soccer berada di angka 99, sangat kencang. Memainkan tim Inter menjadi sesuatu yang mudah di PS, karena juga ada Ibrahimovic yang punya statistik nilai bagus di gim tersebut.

Kini sosok Adriano sudah lekang ditelan waktu. Potensi dalam dirinya tidak mekar sebagai mana mestinya. Mungkin, andai potensinya keluar dengan maksimal, barangkali namanya di dunia sepakbola akan legendaris. Mungkin tidak setara Ronaldo atau Zanetti, tetapi untuk menjadi besar dan superstar bola seperti Ibrahimovic, mungkin sang Emperor bisa.

Sumber foto: dailystar.co.uk, zimbio.com dan sportskeeda.com.

Click to comment

Leave a Reply

Terpopuler

To Top