Half Time

Pendapatan Leicester City: Rp 2.1 Trilyun

leicester-city-profit-offside-id
FOTO: www.skysports.com

Tim juara bertahan Premier League, Leicester City menjadi tim yang kaya mendadak.  Bagaimana tidak, imbal hasil dari gelar juara Premier League pertama dalam sejarah klub yang telah mereka torehkan, setidaknya uang sebesar Rp 2.1 Trilyun masuk ke kantong mereka.  Bagi klub sekelas The Foxes (julukan bagi Leicester City) nilai ini adalah sebuah prestasi finansial yang membanggakan.

David Conn dari Theguardian melaporkan, £129 juta (sekitar Rp 2.1 Trilyun) adalah pendapatan yang diterima oleh Leicester City di musim saat mereka menjadi juara Premier League.  Nilai tersebut meningkat 24% dibandingkan pendapatan musim sebelumnya yang mencapai £104 juta (sekitar Rp 1.7 Trilyun) saat mereka promosi ke Premier League.  Hal ini menunjukkan bahwa mengapa para pemain hingga presiden klub sangat gembira saat timnya berhasil lolos ke kasta tertinggi Liga Inggris yaitu Premier League.  Perputaran uang yang tidak sedikit akan mulai singgah di kantong mereka.  Terlebih, apabila mereka berhasil menjuarai kejuaraan tersebut.

leicester-city-supporters-offside-id

Rata – rata suporter yang hadir datang ke King Power Stadium mengalami peningkatan pada musim 2015/2016 (32.021) dibandingkan dengan musim sebelumnya (31.693). Sumber foto: www.boxtoboxfootball.uk

Penerimaan pada musim lalu meningkat, disebabkan karena meningkatnya nilai hak siar televisi yang diterima oleh Leicester City.  Pada musim 2015/2016, nilai yang mereka dapatkan dari televisi adalah sebesar £95 juta (sekitar Rp 1.5 Trilyun) belum termasuk nilai tambahan yang mereka dapatkan yang bergantung pada posisi akhir klub di penghujung musim.  Karena Leicester City berhasil meraih posisi puncak, maka nilai yang mereka dapatkan jauh lebih banyak dibandingkan klub manapun yang berada di posisi bawah mereka.

Catatan keuangan Leicester City apabila kita runut dari saat mereka promosi ke Premier League pada 2013/2014, terus mengalami perbaikan performa.  Pada musim 2013/2014 Laporan Keuangan mereka mencatatkan kerugian sebesar £21 juta (sekitar Rp 343 Milyar).  Menurut berita resmi klub, kerugian tersebut dikarenakan penyesuaian biaya yang mereka keluarkan terkait dengan aturan Financial Fair Play, dan juga investasi pada pengembangan pemain usia muda. Meskipun pendapatan klub saat itu £31.2 juta (sekitar Rp 501 Milyar) dan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, namun tetap saja mereka harus mencatatkan kerugian yang cukup besar.

Vichai-Srivaddhanaprabha-Leicester-City-offside-id

Presiden dan pemilik klub Leicester City asal Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha telah berinvestasi cukup besar guna pengembangan klub sejak mereka resmi membeli Leicester City pada 2010. Sumber foto: www.dailymail.co.uk

Pada musim selanjutnya, 2014/2015, secara gemilang mereka mencatatkan keuntungan £26.4 juta (sekitar Rp 431 Milyar) serta mencatatkan pendapatan sebesar £104 juta (sekitar Rp 1.7 Trilyun).  Salah satu faktor yang mengangkat pendapatan mereka adalah dari tingginya animo suporter yang hadir ke stadion di setiap pertandingan.

Musim 2015/2016 saat mereka berhasil menjuarai Premier League, keuntungan yang mereka catatkan di Laporan Keuangan mereka adalah sebesar £16.4 juta (sekitar Rp 267 Milyar).  Meskipun meraih pendapatan sebesar £129 juta (sekitar Rp 2.1 Trilyun), uang yang mereka kucurkan pun ikut meningkat, seiring dengan peningkatan pendapatan tersebut.  Investasi untuk peningkatan kualitas para pemain di tim utama (transfer pemain, peningkatan gaji pemain dan para staf klub), meningkatkan donasi kemanusiaan, menyumbang £2 juta (sekitar Rp 32 Milyar) untuk pengembangan Rumah Sakit Anak Leicester serta menambah investasi pada aset tetap mereka adalah pengeluaran jor – joran yang mereka lakukan, sehingga menurunkan laba perusahaan sebesar £10 juta (sekitar Rp 163 Milyar) apabila dibandingkan dengan laba tahun sebelumnya.

Bagaimana dengan kondisi keuangan mereka di musim ini? Laporan resmi belum diberitakan oleh pihak klub melalui situs resmi mereka, dikarenakan batas periode penyusunan Laporan Keuangan klub adalah pada 31 Mei 2017.  Namun, apabila kita melihat kiprah Leicester City yang juga turut andil bagian di kompetisi Liga Champions Eropa, tentu pendapatan mereka akan lebih banyak dibandingkan musim lalu kala mereka hanya berkompetisi di level nasional.  Pos pendapatan yang kemungkinan akan berkurang adalah pendapatan dari posisi akhir mereka di klasemen akhir Premier League nanti.  The Foxes kemungkinan besar akan berada di peringkat tengah, dan sulit untuk masuk ke persaingan di papan atas hingga akhir musim ini.

Rata – rata suporter yang datang ke stadion, dan juga bagi hasil hak siar televisi sudah bisa dipastikan meningkat mengingat kiprah mereka di Liga Champions Eropa yang bahkan bisa lolos dari fase grup dengan status pimpinan klasemen.  Kucuran dana segar dari UEFA selaku pengampu kompetisi Liga Champions Eropa juga sudah pasti mereka dapatkan atas prestasi yang mereka torehkan sejauh ini.

Sumber: Theguardian, Leicester City Financial Results

 

Click to comment

Leave a Reply

Terpopuler

To Top