Haris Suban

Penyebab Zona Liga Champions Diperebutkan

UCL-trophy-offside-id
FOTO: www.premierleague.com

Manchester City, Liverpool, dan Arsenal sengit memperebutkan posisi keempat di Premier League musim 16/17 ini.  Alasannya jelas, bahwa mereka ingin bisa berlaga di Liga Champions Eropa musim depan, meskipun harus melalui babak kualifikasi.  Lain halnya dengan di liga Italia Serie A.  Posisi tiga besar yang merupakan zona liga champions, aman digenggam oleh tiga tim calon kuat juara liga yaitu Juventus, AS Roma dan Napoli.  Tim yang berada di bawah mereka seperti Lazio, Atalanta, AC Milan, Inter Milan dan Fiorentina praktis hanya berebut tiket berlaga di Europa League musim depan.  Di ajang La Liga Spanyol, Sevilla, Villareal dan Real Sociedad bersaing sengit demi berada di peringkat keempat hingga akhir kompetisi, guna memuluskan langkah mereka melaju pula ke Liga Champions musim depan.

Manchester-City-Liverpool-Arsenal-offside-id

Manchester City dan Liverpool akhirnya mengunci peringkat tiga dan empat klasemen akhir Premier League, dan memastikan keikutsertaan mereka di Liga Champions Eropa musim depan. Sumber foto: www.theworldgame.sbs.com

Lantas mengapa mereka sungguh – sungguh ingin berlaga di Liga Champions Eropa? Para klub yang bersaing mendapatkan tiket terakhir untuk lolos ke Liga Champions Eropa bersaing mati – matian, layaknya sedang menjalani pertandingan krusial hidup mati.  Bagi tim yang akhirnya dinobatkan untuk bisa lolos ke Liga Champions Eropa, mereka bersorak, merayakan kemenangan layaknya sedang menjuarai kompetisi domestik.  Mereka merayakan perjuangan yang akan segera dimulai di kompetisi tertinggi antar klub di benua Eropa tersebut.

Jurgen-klopp-celebrates-lallana's-goal-offside-id

Selebrasi gembira Jurgen Klopp, para staf, dan pendukung Liverpool kala Adam Lallana mengunci kemenangan Liverpool dan memastikan satu tiket terakhir ke Liga Champions Eropa musim depan. Sumber foto: www.dailymail.co.uk

Jawaban logis dari pertanyaan di atas sudah tentu adalah karena Liga Champions Eropa merupakan kompetisi bergengsi, dan hampir semua tim mendapatkan kesempatan yang sama untuk bisa menjuarainya.  Ya, bisa jadi memang perihal gengsi tersebut yang membuat para klub – klub sepakbola di Eropa berjuang setengah mati untuk bisa mendapatkan tiket masuk.  Namun, selain alasan tersebut, terdapat satu alasan yang bisa jadi ini merupakan alasan utama bagi para klub untuk bisa berlaga di kompetisi Liga Champions Eropa.  Uang yang berlimpah adalah alasan tersebut.

Kompetisi Liga Champions Eropa memberikan uang yang tidak sedikit bagi para pesertanya.  Bagi tim yang berlaga di suatu fase, akan mendapatkan kucuran uang dari penyelenggara kompetisi, dalam hal ini UEFA (Induk Sepakbola Eropa).  Selain dana dari penyelenggara kompetisi, para klub yang berlaga juga akan meraih dana segar dari kerjasama hak siar televisi karena keikutsertaan mereka di Liga Champions Eropa.  Selain itu, para sponsor juga akan mulai berdatangan dengan kucuran dana yang tentu tidak sedikit, karena klub yang disponsorinya melaju di kompetisi elit Eropa bahkan dunia ini.

David Conn, jurnalis dari theguardian memaparkan sejumlah fakta menarik perihal pendapatan para klub peserta Liga Champions Eropa, khususnya yang berasal dari Premier League.  Dari paparannya ini, kita akan bisa menarik kesimpulan, bahwa uang bisa jadi adalah tropi utama yang diperebutkan para peserta Liga Champions dibandingkan tropi berupa piala yang pada awalnya merupakan donasi dari salah satu majalah olahraga asal Prancis,  L’Équipe ini.

Pada musim 2015/2016, kala Manchester City berhasil sampai ke fase semifinal sebelum akhirnya dihentikan lajunya oleh Real Madrid, mereka mendapatkan €83.8 juta dari UEFA.  Berikut rincian pendapatan tersebut:

  • Keikutsertaan di fase group €12 juta
  • Bonus karena mereka berada di peringkat pertama Group D (Performance Bonus)  €6.4 juta
  • Market pool €46.9 juta
  • Melaju ke babak 16 besar €5.5 juta
  • Melaju ke babak perempat final €6 juta
  • Melaju ke babak semifinal €7 juta

Pendapatan dari UEFA ini merupakan 18% pemasukan dari total keseluruhan uang yang didapatkan oleh Manchester City pada musim 2015/2016.  Uang itu belum termasuk tiket masuk yang mereka dapatkan saat mereka berlaga di Liga Champions Eropa.  Pada 2015 / 2016, total pendapatan Manchester City secara keseluruhan adalah sekitar £391 juta.

Conn juga memaparkan pendapatan Chelsea, Manchester United dan juga Arsenal yang didapatkan dari Champions League TV:

  • Chelsea mendapatkan €69 juta saat hanya melaju hingga babak 16 besar pada 15/16
  • Arsenal mendapatkan €53 juta saat hanya melaju hingga babak 16 besar pada 15/16
  • Manchester United mendapatkan €38 juta saat hanya gugur di fase group pada 15/16

Bayangkan saja apabila sebuah tim bisa konsisten melaju hingga minimal di babak semifinal atau syukur – syukur bisa menjuarai kompetisi Liga Champions Eropa.  Betapa uang berlimpah akan selalu mereka dapatkan.  Tidak usah repot membayangkannya, karena kita bisa melihatnya langsung dari kiprah Real Madrid.  Dalam sepuluh tahun terakhir, rekor keikutsertaan mereka di ajang Liga Champions Eropa adalah tiga kali terhenti di babak 16 besar, empat kali terhenti di babak semifinal, dua kali menjadi juara, dan terbaru pada edisi 2016/2017 ini mereka melaju hingga ke babak final.  Maka tidak heran kalau mereka bisa konsisten berada di puncak klub terkaya di dunia, dan terus akan mendominasi karena setiap bakat pemain terbaik dari belahan dunia muncul, mereka mampu untuk merekrutnya.  Dana segar dari UEFA setiap tahun mereka dapatkan, dan nilainya tentu lebih besar dari apa yang diraih oleh Manchester City.  Belum lagi pendapatan dari sumber lain seperti penjualan tiket penonton, hak siar televisi, penjualan merchandise, hingga kucuran dana dari sponsor.

Real-Madrid-Champions-UEFA-Champions-League-offside-id

Real Madrid merupakan tim terbanyak peraih tropi Liga Champions Eropa dengan 11 kali berhasil keluar sebagai juara. Sumber foto: www.uefa.com

Dewasa ini, sepakbola tidak hanya semudah berebut bola dan berjuang mencetak gol di lapangan, namun juga bagaimana menjaga dan meningkatkan performa bisnis dari masing – masing klub.  Tottenham Hotspurs bahkan rela merobohkan stadion berusia 119 tahun demi meningkatkan kapasitas tempat duduk stadion, guna meraup keuntungan lebih.  Momentum yang tepat karena klub ini sedang konsisten berada di empat besar, dan melaju ke Liga Champions Eropa musim depan.  Manchester United bahkan sempat didenda oleh Adidas sebesar £22 juta karena gagal berlaga di Liga Champions Eropa.  Alasan terkait denda tersebut adalah Manchester United dianggap gagal memasarkan merk Adidas di Eropa dan Dunia melalui kompetisi Liga Champions Eropa.

Prestasi terbukti tidak hanya meraih tropi untuk kebanggaan semata.

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Terpopuler

To Top