Mirwanovic

Dear Fans Man United, Membenci Mourinho Adalah Hal yang Bodoh

Musim pertama Jose Mourinho di Manchester boleh dikatakan berjalan dengan mulus,atau dengan kata lain, sesuai dengan rencana The Special One. Gelar liga memang luput dari genggaman, tapi satu raihan trofi Europa League dan satu tiket otomatis ke babak putaran final penyisihan grup Champions League adalah win-win solution. Apalagi fans United sudah jemu dan bosan harus begadang tengah malam menantikan liga malam jumat yang sebenarnya tidak bagus-bagus amat (Jangan ungkit hal ini pada fans Arsenal!).

Sadar dengan kompetisi yang akan semakin ketat di musim keduanya, Mourinho kemudian membenahi sektor-sektor yang menurutnya kurang di musim perdananya. Rencananya lagi-lagi berjalan sesuai dengan yang diinginkannya. Sejak pekan kelima, orang-orang mulai membicarakan Setan Merah yang kembali menemukan superioritasnya sebagai tim kuat Inggris. Dan hingga pekan ke-10 masih menempel ketat Manchester City di klasemen liga. Tujuh menang, dua imbang, dan satu kali kalah dengan catatan 23 gol memasukkan dan hanya 4 kali kemasukan. Impresif? Tentu saja. Tapi tidak bagi sebagian besar fans Man United. Saat ini mulai muncul suara-suara sumbang yang menyiratkan ketidaksukaan mereka kepada manajer Portugal.

Ketidaksenangan mereka dengan sang manajer mulai timbul saat United hanya bisa bermain tanpa gol menghadapi Liverpool. Mereka, yang mengaku sebagai fans sejati United itu bosan dan menganggap taktik Pria Setubal sangat tidak mencerminkan identitas klub kesayangan mereka: menumpuk pemain belakang dan hanya menyisakan Romelu Lukaku di depan. Parkir bus kata mereka. Strategi yang paling menjemukan dan tidak layak diterapkan dalam sepakbola.

Sikap fans sejati ini semakin menjadi-jadi. Setelah sepuluh pertandingan liga dan tiga pertandingan Champions League, mereka kemudian menghakimi dan menganggap Mourinho bukanlah orang yang tepat memimpin klub. Apalagi, kekalahan dari Huddersfield yang notabene tim promosi adalah sebuah aib yang tak bisa dimaafkan begitu saja. Kemenangan tipis atas Spurs akhir pekan lalu sudah tidak dianggap lagi. Fans-fans United ini, bersama dengan fans sepakbola lainnya, bersekutu dan mempertanyakan kualitas The Special One. Taktik yang diusungnya monoton. Gaya bermain Manchester United sama sekali tidak menarik untuk disaksikan. Istilah kerennya, Mourinho tidak pernah bisa seperti Alex Ferguson yang selalu bermain menyerang. Sesungguhnya, ini adalah pernyataan dari fans ababil yang bahkan tidak pernah menyaksikan betapa putus asanya tim lawan menembus pertahanan United saat Alex Ferguson menginstruksikan pemainnya untuk bertahan.

Ini kemudian membuat saya sedikit bergidik, fans United macam mana yang pola pikirnya sungguh pendek, sependek rentetan gelar liga Liverpool dalam 2 dekade terakhir. Apa yang luput tak bisa dipahami oleh fans sejati ini adalah, United di musim ini merupakan tim dengan pertahanan kedua terbaik di antara tiga besar tim-tim besar di lima liga top Eropa. Hanya Barcelona yang memiliki kebobolan yang paling sedikit, itupun cuma berselisih satu gol. Fakta menarik lainnya adalah, The Red Devils memiliki kesempatan mematahkan rekor Liverpool yang pernah tercatat sebagai tim dengan kebobolan paling sedikit sepanjang sejarah berdirinya liga. Tahun 1978/79, The Kop hanya kebobolan sebanyak 16 kali dari 42 pertandingan, dan hanya kebobolan empat kali dari 21 pertandingan di Anfield. United sejauh ini memang sudah kebobolan 4 kali, tapi perlu diingat, empat gol yang bersarang ke gawang De Gea semuanya tercipta di 2 laga tandang. Di Old Trafford, gawang Big Dave belum terjamah oleh yang lain.

Gary Neville, legenda Setan Merah bahkan membandingkan Mourinho seperti Floyd Mayweather, petinju yang memanfaatkan keahliannya dalam bertahan untuk meraih kemenangan. Apa yang dikatakan Neville ada benarnya. Pada pertandingan menghadapi Spurs lalu, manajer yang mengaku masih mencintai FC Internazionale ini meladeni skuat Pochettino dengan formasi 3-4-3. Hakikatnya, 3-4-3 adalah formasi menyerang, mengandalkan penguasaan bola, dan semacamnya. Arsenal, Chelsea, dan Tottenham Hotspur sudah membuktikannya. Tapi yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Mourinho telah mengubah paradigma tersendiri tentang sepakbola defensif di Premier League. Pakem 3-4-3 menyerang disulap menjadi 5-3-2 bertahan. Ia menginstruksikan Lukaku bermain lebih ke dalam, menarik bek Spurs agar lebih agresif, dan pada saat itulah Anthony Martial menyelesaikan tugasnya, mencetak gol tunggal lewat sebuah serangan balik, memanfaatkan ruang kosong yang menganga ditinggalkan oleh bek The Lily Whites. Ini adalah elemen penting lainnya yang lupa dan gagal dipahami oleh fans garis keras yang dibutakan oleh silau permainan menyerang nan atraktif tetangga sebelah.

Lagipula, bukankah kunci sesungguhnya dari sebuah pertandingan adalah kemenangan. Apa gunanya mencetak gol banyak-banyak, menyerang dengan agresif, tapi ujung-ujungnya cuma bisa kalah dan duduk di peringkat yang lebih rendah? Jurgen Klopp mungkin bisa menjawabnya.

Dini hari nanti, United akan menjamu Benfica. Menang, kembali menampar fans-fans Manchester United kemarin sore itu adalah sebuah hal yang harus direalisasikan. Dan Yakinlah, sang manajer selalu punya cara tersendiri untuk membuktikan eksistensinya.

Shushhh…..

Tulisan ini sudah terbit sebelumnya di platform UC We-Media: Link terkait di sini

Update: Manchester United sukses mempecundangi Mile Svilar dan Benfica. Jadi, kalian masih ragu dengan kualitas Jose Mourinho?

 

Click to comment

Leave a Reply

Terpopuler

To Top