Mirwanovic

Dear Barcelona, Paulinho Bukanlah Coutinho

paulinho-coutinho

Memiliki nama yang berakhiran sama tidak serta merta membuat dua pemain dikaruniai kemampuan yang serupa, kecuali mungkin Duo Ronaldo beda generasi. Jika Robinho saja kemampuannya tidak sepadan dengan Ronaldinho, bagaimana mungkin Paulinho bisa disamakan dengan Coutinho? Barcelona mungkin punya jawaban dari pertanyaan tersebut. Entahlah. Satu hal yang pasti, klub asal Catalan itu sudah resmi mengontrak Paulinho dan memulangkannya kembali ke Eropa.

Ketidakmampuan mereka meyakinkan Philippe Coutinho untuk hijrah ke Spanyol membuat Barcelona merogoh 40 juta euro untuk memboyong gelandang asal Brazil dari Guangzhou Evergrande. Nominal yang tidak banyak sebenarnya, jika acuannya adalah uang hasil penjualan Neymar ke Paris Saint-Germain (222 juta euro). Tapi, untuk pemain sekelas Paulinho? 40 juta euro? Petinggi Barcelona pasti sedang bercanda.

Saya sudah membaca banyak komentar dari fans Barcelona yang mendukung transfer Blaugrana kali ini. Jujur, meskipun tidak terlalu antusias dengan kompetisi sepakbola Spanyol, tapi Paulinho ke Barcelona ini adalah hal yang sungguh sulit untuk diterima nalar. Logikanya begini: Apakah mungkin, pemain yang dilabeli sebagai pemain terburuk yang pernah direkrut Tottenham Hotspur (Maret 2017) ini bisa jadi tumpuan sekaligus motor penggerak di lini tengah Barcelona? Belum lagi fakta bahwa dua musim terakhir Paulinho menghabiskan karirnya dengan bermain di liga antah berantah, liga dengan tingkat kecurangan yang bisa dibilang cukup tinggi. Apakah mungkin? Jika di Spurs saja ia gagal, bagaimana dengan di Barcelona?

Sepeninggal Neymar Jr, yang dibutuhkan Barcelona saat ini adalah pemain yang memiliki kreativitas, visi bermain, serta kemampuan mencetak gol dari second line. Pertanyaannya, atribut seperti apa yang dilihat petinggi Barcelona dalam diri seorang Paulinho sehingga mereka mengalihkan perburuannya dan mengabaikan Coutinho? Sebagai acuan, silakan cermati statistiknya saat masih memperkuat Spurs: Musim 2013/14, gelandang Brazil bermain sebanyak 30 kali, mencetak 6 gol, dan hanya menciptakan 24 peluang. Musim 2014/15, ia bahkan cuma bisa bermain sebanyak 15 kali tanpa satu gol pun, dan hanya menciptakan 4 peluang. Di negeri Tiongkok, Paulinho hanya mengulangi prestasi di musim perdananya bersama Spurs, di mana ia mencetak 6 gol.

Jika alasan Barcelona mengontrak Paulinho adalah sebagai proyeksi jangka panjang lini tengah yang mulai menua, well, usia Paulinho sendiri sebenarnya tidak bisa dikatakan muda lagi, 29 tahun. Lagipula, masih ada Arda Turan, Ivan Rakitic, Denis Suarez, atau Andre Gomes yang bisa diandalkan Valverde selama beberapa musim kedepan.

Apa yang dilakukan Barcelona di bursa transfer kali ini kembali mengingatkan kita saat mereka memboyong Arda Turan dari Atletico Madrid. Turan, yang sebelumnya adalah pemain kunci Atleti, tidak bisa berbuat banyak saat berkostum Barcelona. Overpriced, begitu kata mereka. Berkaca dari aktivitas transfer tersebut, bisa dikatakan kalau Paulinho adalah sebuah panic buying. Nasib gelandang Brazil ini bisa dipastikan akan berakhir prematur di Camp Nou, sama seperti ketika mereka mengontrak pemain yang bernama lengkap Alexandre Dimitri Song Billong…

Dear Barcelona.. You bought the wrong player…

 

*Artikel ini telah tayang di UC Media, 14 Agustus 2017.

Click to comment

Leave a Reply

Terpopuler

To Top