Mirwanovic

Menyelamatkan Arsenal Dari Komplikasi Penyakit Kronis Bernama Arsene Wenger

arsene wenger

Saat Manchester United, Manchester City, dan Chelsea mulai mendulang poin di pekan ketiga Premier League, Arsenal justru menarik diri dari persaingan perebutan gelar liga. Tiga pertandingan, The Gunners hanya bisa memetik tiga poin. Setelah kalah dari Stoke City di pekan kedua liga, akhir pekan lalu Arsene Wenger kembali harus menundukkan kepala ketika timnya dibantai Liverpool di Anfield, 4-0. Mengucilkan Arsenal dari persaingan gelar saat musim masih menyisakan 35 pertandingan adalah hal yang kejam. Tapi, melihat kondisi yang ada saat ini, sulit rasanya bagi The Gunners untuk juara. Jangankan juara, kembali ke kodrat mereka sebagai tim peringkat empat pun rasa-rasanya sedikit mustahil.

Cerita tentang Arsenal yang tidak kompeten sebenarnya bukan lagi hal yang baru dalam sepakbola. Ini adalah sakit musiman yang rutin menggerogoti Meriam London dari tahun ke tahun. Jika ditarik mundur ke belakang, Arsenal mulai sakit-sakitan sejak mereka menjuarai Premier League di musim 2003/2004, musim di mana Arsene Wenger membawa The Gunners keluar sebagai kampiun tanpa sekalipun mengalami kekalahan di liga. Faktanya memang seperti itu. Musim 2004/2005, Arsenal gagal mempertahankan gelar liga. Satu-satunya gelar yang diraih di musim itu adalah Piala FA, saat mengalahkan Manchester United di partai final, itupun lewat adu penalti. Setelah itu, tak ada lagi prestasi impresif Meriam London. Satu-satunya prestasi tertinggi mereka selama periode tersebut adalah menjadi finalis di Champions League musim 2005/2006, namun berakhir dengan kekalahan atas Barcelona.

Akhir musim 2004/2005 juga ditandai dengan hengkangknya kapten sekaligus jenderal lapangan tengah klub: Patrick Vieira. Tidak adanya Vieira di lini tengah menyisakan lubang yang menganga. Dua belas musim berjalan, tapi Wenger sekalipun belum bisa menemukan antibiotik dari penyakit ini. Aaron Ramsey, Cesc Fabregas, Jack Wilshere sudah pernah dijadikan kelinci percobaan. Tapi tak ada satupun yang mendekati. Fabregas mungkin salah satunya. Tapi dalam hal kepemimpinan, Fabregas masih jauh dari kata itu. Jadi, Arsenal mau berharap pada siapa? Xhaka? Elneny? Ramsey? Dengan segala hormat. Buang jauh-jauh mimpi itu, Arsene.

FPL-offside-id

Arsenal butuh pengobatan. Mencari pengganti Patrick Vieira adalah hal yang sudah usang. Sudah terlalu terlambat. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana mereka sesegera mungkin menyingkirkan Arsene Wenger. Karena percayalah, sumber dari segala penyakit itu adalah sang manajer itu sendiri. Sudah cukup waktu bagi Wenger untuk tetap bertahan di Arsenal. Dia bukan Alex Ferguson. Membuatnya jadi manajer terlama di klub tanpa gelar bergengsi adalah keputusan bodoh yang diambil klub.

Wenger memang pelatih yang bagus. Ia merupakan sosok yang mengubah warna dan corak sepakbola Inggris. Filosofinya dalam mengusung sepakbola indah yang digabung dengan kick and rush ala Inggris adalah hal yang patut diapresiasi. Tanpa Wenger, sepakbola Inggris akan menjadi sangat membosankan. Tapi itu dulu. Saat ini Wenger adalah bom waktu yang bisa menghancurkan Arsenal kapan saja.

Salah satu kesalahan terbesar Wenger adalah ketidakmampuannya dalam mendatangkan pemain berkualitas di bursa transfer. Baru dalam beberapa tahun terakhir The Professor bersedia menggelontorkan dana besar untuk merekrut pemain. Tapi, lihatlah hasilnya saat ini. Hanya Mesut Ozil dan Alexis Sanchez yang memenuhi ekspektasi itu. Selain itu? Pemain yang dibeli Wenger tidak lebih dari sekadar panic buying. Wenger tidak pernah benar-benar mendatangkan pemain yang kompeten. Lini belakang yang keropos tak pernah diisi oleh pemain-pemain berkualitas sejak era Tony Adams dan Martin Keown, dua pemain bertahan yang sama sekali bukan pembelian Wenger pada saat itu. Berkaca pada dua fakta ini (faktor Vieira, Adams, dan Keown), sudah bisa disimpulkan kalau Wenger sebenarnya bukan manajer hebat. Lagipula, apa saja kontribusi Lucas Perez, Gabriel Paulista, Mathieu Debuchy saat masih berkostum The Gunners? Benchwarmer, kawan-kawan! Teranyar, Alexander Lacazette juga menyandang status benchwarmer di pertandingan sekrusial Liverpool. What were you thinking, Arsene??

Belum lagi jika kita berbicara soal kedalaman skuat. Jangankan kedalaman skuat, starting lineup Arsenal saja sebenarnya adalah mereka yang kemampuannya rata-rata. Siapa dari pemain Arsenal yang kemampuannya mendekati level Alexis Sanchez atau Mesut Ozil? Theo Walcott? Alex Oxlade-Chamberlain? Atau Danny Welbeck? Ya Tuhan! Bahkan seorang Jose Mourinho pun akan kesulitan dengan komposisi pemain seperti itu.

Pun halnya dalam pengejawantahan taktik di atas lapangan. Gaya bermain Arsenal begitu monoton: Menitikberatkan pada umpan-umpan pendek dengan gaya bermain ofensif. Baru di beberapa pertandingan akhir musim lalu Wenger melunak dan mencoba skema baru dengan memainkan tiga bek, atau mengandalkan serangan balik. Tapi lagi-lagi, semua itu cuma fatamorgana semata. Harapan semu yang dihembuskan untuk menenangkan para Gooners. Bagaimana mungkin fans bisa menikmati pertandingan dengan tenang jika Wenger terus mempercayakan sektor kiri di pundak Hector Bellerin, misalnya? Toh, pemain Spanyol itu sama sekali buta di departemen itu.

Arsenal tak bisa lagi berharap keajaiban dari sentuhan tangan dingin Sang Professor. Dosa-dosa Wenger sudah terlalu banyak. Merealisasikan kampanye #WengerOut adalah hal yang mutlak dan harus didengar petinggi klub. Tapi, apakah klub benar-benar akan menyingkirkannya? Berkaca pada musim-musim sebelumnya, saya kok agak pesimis ya hal itu bakalan terjadi….

Artikel ini juga terbit di platform UC media. Link di sini

Click to comment

Leave a Reply

Terpopuler

To Top