Serba 11

Nostalgia Sepakbola: 11 Pemain Non Inggris Yang Terlupakan Di Premier League

Foto: dailyexpress.com

Content Warning: Jika anda mengenal setidaknya 5 dari nama yang ada di bawah ini, saran kami cuma satu: Segeralah menikah. Kalian sudah tua.

Saya lahir di tahun 1989. Jika ditanya sejak kapan saya mulai mengenal sepakbola, periode itu mungkin terjadi ketika majalah bernama Sportif merupakan yang terbaik (selain Tabloid Bola), hubungan Super Pippo-Ale Del Piero masih harmonis, dan Marcelo Lippi masih asyik mengisap cerutu di pinggir lapangan.

Memang masa kecil saya dihabiskan dengan Serie A, dengan Francesco Totti dan Christian Vieri, tapi saya tak lantas buta dengan Premier League. Nama-nama seperti Marcel Desailly hingga Davor Suker begitu akrab di telinga saya.

Menyangkut hal itu, maka tak ada salahnya saya kembali membangkitkan ingatan masa lalu, tentang pemain Non Inggris yang mungkin saja sudah dilupakan oleh pecinta Premier League.

Hidetoshi Nakata (Bolton)

nakata-bolton-pemain-premier-league

Jauh sebelum Shinji Kagawa, Hidetoshi Nakata dikenal oleh fans sepakbola Inggris sebagai pemain Jepang yang pernah bermain di Premier League. Sebelum merumput di Inggris, nama Nakata lekat dengan Serie A. Ia pernah membela AS Roma, dan meskipun hanya semusim di Ibukota, tapi satu gelar Serie A cukup membuatnya disanjung di negeri Pizza.

Sayang, karirnya tak secemerlang saat pindah ke Inggris. Di Bolton, pemain yang memutuskan pensiun karena ingin mengejar pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ini lebih sering berkutat dengan cedera sehingga ia tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya di Inggris.

Fernando Hierro (Bolton)

BOLTON, ENGLAND - MAY 15: Fernando Hierro of Bolton Wanderers during the Barclays Premiership match between Bolton Wanderers and Everton at the Reebok Stadium on May 15, 2005 in Bolton, England (Photo by Michael Steele/Getty Images) *** Local Caption *** Fernando Hierro

BOLTON, ENGLAND – MAY 15: Fernando Hierro of Bolton Wanderers during the Barclays Premiership match between Bolton Wanderers and Everton at the Reebok Stadium on May 15, 2005 in Bolton, England (Photo by Michael Steele/Getty Images) *** Local Caption *** Fernando Hierro

Legenda di Madrid, flop di Bolton. Fernando Hierro adalah salah satu bek tengah terbaik sepanjang sejarah sepakbola. Setelah mengabdikan diri selama hampir 500 penampilan di ibukota Spanyol, Hierro mengasingkan diri ke timur tengah sembari menunggu waktu pensiun. Kurang dari setahun di sana, Hierro tergoda untuk kembali ke Eropa setelah Bolton Wanderers mengajukan penawaran. Setahun di Bolton, Hierro akhirnya memutuskan pensiun.

Roberto Mancini (Leicester City)

Former Italian International Roberto Mancini (right) with Leicester City Manager Peter Taylor after joining from Lazio, where he was Player-coach. Today, Leicester Thursday, 18th January, 2001.**EDI** PA Photo : Nick Potts

Former Italian International Roberto Mancini (right) with Leicester City Manager Peter Taylor after joining from Lazio, where he was Player-coach. Today, Leicester Thursday, 18th January, 2001.**EDI** PA Photo : Nick Potts

Ya. Roberto Mancini pernah menjadi bagian dari Leicester City. Tahun 2001, eks Lazio kembali dari masa pensiun dan bermain selama setengah musim, per Januari 2001.

Saat itu, Mancio tengah menangani Lazio, dengan status sebagai asisten Sven Goran Eriksson. Keputusannya kembali merumput lantaran tawaran untuk ‘mendidik’ Ade Akinbiyi, Trevor Benjamin, dan Richard Cresswell yang tak bisa ditolaknya.

Gianluca Vialli (Chelsea)

vialli-chelsea

Tahun 1996, Chelsea memanfaatkan keuntungan saat Gianluca Vialli berstatus free transfer dari Juventus. Tak butuh waktu lama bagi striker berkepala plontos ini untuk jadi bagian dari skuat yang dibangun Ruud Gullit. Di musim pertamanya, Vialli meraih kesuksesan dengan mengantarkan The Blues menjuarai Piala FA. Fans Chelsea di era itu mungkin akan selalu mengingat aksi heroik Vialli saat menyelamatkan Chelsea dari kekalahan, dan comeback 4-2 atas Liverpool di mana dua dari empat gol tersebut dicetaknya. Meski menghabiskan karir selama 3 musim di The Bridge, namun tak pernah mendapat kesempatan lagi dari Gullit setelah keduanya bersitegang. Ironisnya, di partai final FA 1996, striker berkebangsaan Italia harus duduk di bangku cadangan selama 85 menit dan hanya diberi kesempatan 5 menit di waktu normal.

George Weah (Manchester City & Chelsea)

george-weah-chelsea

Legenda AC Milan sekaligus pemain Afrika pertama yang pernah meraih Ballon d’Or ini pernah menghabiskan karir di Inggris. Perkenalan dirinya di depan fans Chelsea pun termasuk istimewa: Berstatus pemain pinjaman, eks Milano mencetak gol debut ke gawang Tottenham Hotspur. Tahun 1999-2000 juga menjadi momen terbaik Weah bersama The Blues, kala klub asal London itu kembali menjuarai Piala FA.

Chelsea sebenarnya memiliki opsi untuk mempermanenkan kontraknya di akhir musim, hanya saja pria yang saat ini terjun ke dunia politik lebih memilih pindah ke Manchester City, klub yang baru promosi pada saat itu. Keputusan yang salah, karena pertengkarannya dengan Joe Royle, manajer City pada saat itu berujung pada mandeknya karir sang pemain.

Youri Djorkaeff (Bolton & Blackburn)

djorkaeff-bolton

Tahun 1998 adalah periode kejayaan Prancis. Le Blues baru saja menjungkalkan dan membantai Brazil, negara adikuasa sepakbola dengan skor telak 3-0, dan Youri Djorkaeff sudah merasakan semuanya (Kecuali juara Serie A). Mungkin karena alasan itu juga sehingga ia memutuskan pindah ke Inggris, dan menghabiskan sisa karirnya di sana.

Di usia 32 tahun, Djorkaeff menerima pinangan Bolton Wanderers pada tahun 2002. Meski usianya tak lagi muda pada saat itu, tapi Djorkaeff membuktikan kalau dirinya belum habis. Dua musim di Reebok Stadium, striker Prancis membukukan 2o gol.

Setelah tak lagi dipakai oleh Bolton, Djorkaeff kemudian pindah ke Blackburn. Karirnya di sana tidak bisa dibilang bagus. Hanya bermain sebanyak tiga kali hingga akhirnya ia meninggalkan Ewood Park.

Fernando Morientes (Liverpool)

morientes-liverpool

Fernando Morientes adalah satu dari sedikit striker non Inggris yang memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam hal kemampuan aerial. Saat direkrut Liverpool dari AS Monaco, Morientes bisa saja jadi salah satu striker terbaik Inggris. Tapi, cedera berkepanjangan membuat performanya tak kunjung membaik.

Hanya bertahan selama 18 bulan di Merseyside, eks striker Real Madrid akhirnya kembali ke Spanyol dan memperkuat Valencia.

Vincenzo Montella (Fulham)

montella-fulham

Transfer musim dingin 2007, Vincenzo Montella, striker yang pernah masuk dalam generasi emas Italia pindah ke Fulham, klub kecil yang ada di London. Debutnya juga tak begitu buruk, dua gol dicetaknya di Craven Cottage, saat Fulham menjamu Leicester City di ajang FA Cup.

Sepanjang kiprahnya di Fulham, Il Aeroplanino–Julukan Montella beberapa kali dipercaya manajer Fulham saat itu, Chris Coleman. Ketika Coleman digantikan oleh Lawrie Sanchez, Montella tak lagi jadi bagian Fulham. Lawrie batal memperpanjang kontrak striker Italia ini, hanya seminggu sebelum masa peminjamannya berakhir.

Davor Suker (Arsenal & West Ham)

gun__1274802771_suker_davor

Tahun 1999, Arsenal butuh pemain yang tepat untuk menggantikan Nicholas Anelka, striker muda yang temperamental. Pilihan Wenger kemudian jatuh kepada Davor Suker, jugador Real Madrid yang usianya sudah menyentuh angka 31.

Tidak banyak yang bisa diperbuat Suker di Arsenal. Satu-satunya pencapaian terbaiknya adalah ketika striker asal Kroasia ini mengalahkan jumlah gol Dennis Bergkamp di musim yang sama. Semusim di Arsenal, Suker kemudian pindah ke West Ham. Hanya bermain sebanyak 11 kali bersama The Hammers, Suker kemudian angkat kaki dari Inggris dan menghabiskan sisa karirnya di klub Jerman, 1860 Munich.

Didier Deschamps (Chelsea)

Didier DESCHAMPS - 09.04.2000 - CHELSEA FC Photo : Sport / Icon Sport

Didier DESCHAMPS – 09.04.2000 – CHELSEA FC
Photo : Sport / Icon Sport

Lima musim di Juventus, Didier Deschamps mencoba peruntungannya di Chelsea. Kompatriot Antonio Conte di era 90an ini hanya bisa bertahan selama semusim di The Bridge, bermain sebanyak 27 kali secara keseluruhan, dan hanya mencetak satu gol ke gawang Hertha Berlin. Itu pun cuma di ajang Champions League.

Brian Laudrup (Chelsea)

brian-laudrup-chelsea-pemain-epl-yang-dilupakan

Karir Brian Laudrup di Chelsea adalah cerita tersendiri dalam sejarah transfer The Blues. Saudara kandung dari Michael Laudrup ini sama sekali tidak tahu kalau ia hanya berstatus sebagai rotation player di Chelsea.

“Andai saja saya mengetahuinya, saya sudah pasti akan berpikir dua kali untuk pindah ke Chelsea. Ketika saya dan klub bertemu dan membahas perihal kontrak, mereka sama sekali tidak memberitahu saya tentang mekanisme yang ada di klub.”

Lantaran tidak betah dan hatinya tidak sepenuhnya ada untuk Chelsea, striker asal Denmark ini kemudian meninggalkan The Bridge, hanya enam bulan setelah kedatangannya di klub, dan memutuskan untuk kembali ke Denmark, memperkuat Copenhagen.

Fun fact: Semasa masih di Chelsea, Copenhagen merupakan satu-satunya klub yang gawangnya pernah dijebol oleh Laudrup dalam 11 kali penampilannya bersama klub asal London tersebut.

Sepanjang penulisan artikel ini berlangsung, nama-nama seperti Ivan Campo, Jay Jay Okocha, Nolberto Solano, Raimond Van Der Gouw, Ed De Goey, hingga Massimo Taibi dan Mark Bosnich terus menerus muncul dalam kepala saya.

Familiar dengan mereka? Ndang rabi, mas brooo

 

Click to comment

Leave a Reply

Terpopuler

To Top