Serba 11

Top 11: Sebelas Pemain Terburuk Sepanjang Sejarah Serie A

lukas-podolski-offside-id
FOTO: www.skysports.com

Serie A, meskipun kalah pamor dengan Premier League, namun kompetisi tertinggi Italia ini akan selalu mendapat tempat di hati fans sepakbola. Kompetisi Serie A memiliki karisma tersendiri yang membuatnya beda dengan liga top eropa lainnya. Jika anda membahas sepakbola Italia di warung kopi atau angkringan, atau dengan mereka yang lahir di tahun 80-90an, Serie A akan selalu identik dengan sepakbola defensif, membosankan, namun penuh dengan estetika dan keindahan. Di Italia juga dikenal dengan sebutan Bidone d’Oro, sebuah penghargaan yang dipakai untuk menghukum pemain kelas dunia, mereka yang dianggap sebagai pembelian gagal. Banyak nama-nama besar yang pernah mendapat penghargaan yang dicetuskan sejak awal tahun 2000an, termasuk Rivaldo, pemain pertama yang menerimanya di tahun 2003.

Terkait Bidone d’Oro, di bawah ini adalah 11 pemain terburuk yang pernah merumput di negeri Pizza itu.

Nemanja Vidic

vidic-flop

Pahlawan di Inggris, Kapten dan legenda di Manchester United. Tapi di Italia, Vidic tak bisa berbuat banyak. Hanya jadi pilihan kedua, beberapa kesalahan-kesalahan mendasar seringkali dilakukannya tiap diturunkan. Pertandingan versus Torino mungkin dianggap sebagai yang terburuk: Kartu merah di laga debutnya. Pindah ke Inter ternyata bukan keputusan yang tepat. Vidic kini telah bertransformasi, dari batu karang, dan kini cuma jadi batu akik.

Federico Macheda

macheda-flop

Menyebut nama Macheda, fans Man United pasti akan langsung teringat dengan momen di tahun 2008-2009, ketika Sir Alex Ferguson menurunkan pemain muda asal Italia, dan mencetak gol indah di laga debut versus Aston Viilla. Berkat Macheda juga lah, United akhirnya meraih gelar ke-18 mereka, menyamai rekor Liverpool. Macheda lantas dianggap sebagai generasi Italia di masa yang akan datang.

Tak kunjung mendapat kesempatan bermain reguler, Macheda, yang sempat magang di beberapa klub akhirnya kembali ke Italia dan memperkuat Sampdoria. Kampung halamannya ternyata tak jauh lebih baik. Macheda, yang kabarnya termasuk bengal di sesi latihan ini gagal memenuhi ekspektasi yang dibebankan oleh fans Blucerchiatti.

Lukas Podolski

podolski-flop-inter

Ada suatu masa ketika nama Lukas Podolski jadi momok bagi lini belakang dan penjaga gawang. Ketika masih bermain di Jerman, ia dilabeli sebagai pemain muda dengan talenta yang luar biasa. Di FC Koln dan Bayern Munich, Podolski adalah predator. Permainannya sangat menjanjikan. Kemudian datanglah Arsenal yang merusak momen indah Podolski. Gagal bersinar di Arsenal, Inter Milan datang dan mengajukan tawaran untuk Poldi bermain di Italia, yang ternyata gagal juga. Uniknya, mesti berstatus sebagai pemain pinjaman pada saat itu, Poldi terpilih sebagai salah satu pemain terburuk Serie A versi Gazzetta dello Sport, media ternama Italia.

Podolski, yang saat ini berusia 30 tahun, tengah mengasingkan diri di Turki dan bermain untuk Galatasaray.

Seydou Doumbia

doumbia-flop-roma

Dua kali jadi pencetak gol terbanyak di Rusia bersama CSKA Moscow adalah prestasi terbesar Seydou Doumbia. Di CSKA, ia adalah pilar dan motor serangan tim dan sangat berbahaya saat berhadapan dengan penjaga gawang. Ketika ia memutuskan pindah ke AS Roma, semuanya berbalik 180 derajat. Seperti halnya Podolski, Doumbia juga terpilih sebagai pemain terburuk serie A versi Gazzetta di musim 2015 lalu.

Ashley Cole

usa_ashley-cole-flop-roma

Kualitas Ashley Cole tak bisa diragukan lagi. Namanya pernah masuk dalam daftar bek kiri dunia terbaik sepanjang sejarah. Perbedaan atmosfer sepakbola Italia dan Inggris membuatnya gagal beradaptasi. Eks full back Chelsea ini bahkan sempat jadi bahan olok-olok di media sosial akibat foto tim yang menggambarkan dirinya seperti terasing di klub ibukota itu.

Ricardo Quaresma

quaresma-flop-inter

Jika ada satu nama yang paling pantas mendapat penghargaan Bidone d’Oro of The Century, dia adalah Ricardo Quaresma. Sejatinya, Quaresma adalah pemain yang hebat. Kualitasnya pun di atas rata-rata. Ia bahkan lebih bagus dari Luis Nani. Tapi, ketika ia memutuskan menerima pinangan 18.45 juta pounds dari Inter Milan, kemampuannya pun memuai, hilang ditelan bumi. Jose Mourinho akhirnya memarkir Quaresma secara permanen setelah sempat menjalani trial selama 24 pertandingan.

Imbasnya, penghargaan Bidone d’Oro pun diberikan padanya pada tahun itu. Poor Quaresma.

Digao

digao-kaka-milan-brother-flop

Membaca namanya saja, bisa ditebak kalau Digao ini pemain yang asalnya dari Brazil. Tapi tahukah anda, bahwa Digao adalah saudara kandung dari Ricardo Izecson dos Santos Leite aka Kaka? Digao ternyata pernah bermain di klub yang sama dengan sang kakak, AC Milan. Kami tidak tahu bujuk rayu seperti apa yang dilakukan Kaka agar Milan memboyong Digao pada tahun 2005. Satu hal yang pasti, darah sepakbola tidak mengalir dalam dirinya. Digao jauh berbeda dengan Kaka. Skillnya begitu terbatas. Karena alasan itu pula mungkin, sehingga namanya tidak pernah sekalipun masuk dalam daftar lineup Rossoneri. Milan sendiri sebenarnya pernah menaruh harapan kepada Digao, terbukti dengan meminjamkannya ke beberapa klub. Pada akhirnya, yang didapat Milan tak lebih dari sekedar harapan palsu. Digao adalah manusia PHP.

Vampeta

vampeta-flop-inter

Inter Milan mendatangkan Marcos Andre Batista dos Santos aka Vampeta pada tahun 2000. Nama Vampeta pantas disandingkan dengan Quaresma, in term of Flop Players. Bayangkan, ia sudah tanda tangan kontrak, sudah resmi bergabung dengan Inter, tapi Vampeta ini sama sekali tidak tahu menahu tentang klub barunya. Ketika diwawancarai oleh koresponden Gazzetta World, Mauricio Cannone, Vampeta mengaku bahkan tidak tahu pelatihnya sendiri (Marco Tardelli). Kan Gila! Siapa yang tidak kenal dengan Tardelli? Setidaknya, yaah, kenal namanya lah.

Sepanjang karirnya di Inter, tak banyak yang bisa diberikan Vampeta untuk rival AC Milan itu. Menit bermain yang kurang mungkin disebabkan karena ketidaktahuan-atau sikap masa bodohnya terhadap Tardelli. Pesan moral: Selalu hormati atasanmu, atau semuanya menjadi sangat buruk.

Alessio Cerci

alessio-cerci-flop

Jika dituliskan dalam satu kalimat pendek, karir sepakbola Alessio Cerci adalah contoh nyata bahwa segala sesuatunya tidak bisa berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan. Jika Dewa Sepakbola tidak menghendakinya, maka hal itu tidak akan pernah terwujud.

Lahir dan besar di Italia, Cerci pastinya sudah mengetahui seluk beluk kompetisi dan klub Italia seperti apa. Sehingga ketika memilih AC Milan sebagai klubnya, itu bukanlah pilihan yang salah. Toh, Milan juga klub besar di Italia. Tapi faktanya, striker berusia 28 tahun ini justru gagal bersinar. Terpilih sebagai pemain terburuk di tahun 2015, Cerci hanya bisa mencetak satu gol. Fans Il Diavolo Rosso ingin segera menghapus memori mereka tentang winger menjanjikan bernama Alessio Cerci.

Ishak Belfodil

belfodil-flop

Saya pertama kali mengenal nama Ishak Belfodil lewat Football Manager. Saat itu, di usianya yang masih sangat muda, Belfodil dilabeli sebagai hot prospect, atau pemain yang menjanjikan. Setelah sempat melanglang buana di Parma, Inter Milan, dan Livorno, namanya mulai dilupakan. Belfodil saat ini mencoba peruntungannya di Pro League, kompetisi di Uni Emirat Arab.

Micah Richards

micah-richards-fiorentina-flop

Setelah tenaganya tak lagi dibutuhkan Manchester City, Micah Richards berhasil mengamankan satu tempat dengan menjalani masa peminjaman di Serie A bersama Fiorentina. Harapannya, bek kelahiran Birmingham ini bisa mendapat porsi bermain yang lebih banyak, dan mungkin saja suatu hari nanti bisa kembali menjadi bagian Manchester City.

Sial bagi Richards, karirnya di La Viola tidak berjalan dengan mulus. Di akhir masa peminjamannya, Fiorentina enggan menyodorinya kontrak permanen. Karir pemain 28 tahun ini pun terhenti di Divisi Championship bersama Aston Villa.

 

Kepada semua pemain sepakbola yang karirnya sudah hampir habis: Jangan pernah mau pindah ke Inter Milan. Jangan. Kami mohon dengan sangat.

UP Watch
Click to comment

Leave a Reply

Terpopuler

To Top