Suara Fans

Ryan Giggs, Pria Loyal Dari Wales

ryan-giggs-man-united-manager
Foto: independent.co.uk

“Ryan Giggs Ryan Giggs running down the wing

Feared by the blues loved by the reds.

Ryan Giggs.. Ryan Giggs.. Ryan Giggs..”

Banyak pemain hebat yang tercipta di dunia sepakbola sejak olahraga ini dimainkan. Pemain bertalenta dan pemain dengan pengalaman yang bejibun bertebaran, mengisi klub-klub besar di daratan Eropa dan Amerika. Bertahan pada satu klub sepanjang karir profesional hampir mustahil dilakukan oleh para pemain di era ini. Ada banyak alasan yang bisa membuat iman mereka goyah dan pindah ke klub lain. Kenyamanan, tekanan, materi, dan mimpi hanyalah contoh kecil. Samahalnya dunia percintaan, di dalam sepakbola, menjadi setia itu sangat sulit di tengah banyaknya godaan duniawi. Namun lelaki dan pesepakbola tak semuanya sama. Ada one in a million pria-pria di luar sana yang hanya setia pada satu wanita dan pesepakbola yang setia hanya kepada satu klub di sepanjang karirnya. AC Milan punya Paolo Maldini dan Franco Baresi, Liverpool punya Jamie Carragher (menyebalkan tetapi harus tetap diakui biar fair), Arsenal punya Tony Adams, AS Roma dengan Pangeran Totti, dan Manchester United punya Ryan Giggs. Mereka inilah yang kemudian disebut “legend’ oleh para penggemar. Mereka bukannya tidak dilirik oleh klub lain, tetapi rasa cinta mereka terhadap klub lah yang membuatnya bertahan sampai akhir.

Hal yang paling pertama saya ingat dari seorang Ryan Joseph Giggs adalah sikap tidak banyak bicaranya yang menjauhkannya dari gosip miring, dan tentu saja, bulu dadanya. Siapa yang tidak ingat dengan aksinya melepas jersey saat melesakkan gol kemenangan pada semifinal piala FA versus Arsenal tahun 1999 dan mempertontonkan bulu dadanya yang lebat. Tentu saja aksi ini saya tonton melalui YouTube karena pada tahun itu saya masih asik dengan film kartun Doraemon dan Dragon Ball. Giggsy, begitu Sir Alex Ferguson dan kawan-kawan memanggilnya, adalah salah satu dari 6 (enam) nama Class of ’92 yang melegenda di Manchester United. Bersama David Beckham, Nicky Butt, Gary Neville, Phil Neville, dan Paul Scholes, dia menjadi bagian dari generasi emas yang selalu dibanggakan oleh Sir Alex Ferguson dan seluruh pecinta klub.

Mengawali karirnya sebagai pesepakbola muda yang berlari-lari di sayap kiri, Giggsy menjadi pemain tengah andalan Manchester United selama hampir tiga dekade. Pembawaan yang tenang serta disiplin tinggi di lapangan tak jarang membuatnya sebagai penentu kemenangan. Putra dari pemain rugby ini dikenal memiliki kondisi fisik yang bagus sehingga dia masih bisa beradaptasi dengan permainan tim utama pada umurnya yang terbilang uzur bagi seorang pemain sepakbola, apalagi pemain tengah. Body balance–keseimbangan tubuh yang baik membuatnya tak tampak seperti pria tua di antara pemain-pemain muda dengan fisik yang masih sangat bugar. Kondisi fisik, body balance dan ketenangan didapatkannya dengan rutin melakukan olahraga yoga yang enggan diikuti oleh Paul Scholes. Perbedaannya terlihat jelas dari cara mereka menghadapi lawan saat one on one.

Banyak prestasi yang telah diraih oleh Giggsy, baik di level klub maupun individu. Pencapaiannya bahkan lebih banyak daripada pencapaian beberapa klub Liga Inggris yang sekarang mencap dirinya klub besar (If you know who I mean). Entah sudah berapa rekor yang dipecahkannya dengan bermain sebagai pemain professional hingga umur 40 tahun, dan hanya memperkuat satu klub. Tahun ini menjadi salah satu tahun yang emosional dengan keputusannya untuk meninggalkan klub yang ditempatinya lebih dari separuh hidupnya. Setelah pensiun sebagai pemain pada tahun 2014 kemudian masuk ke dalam staf kepelatihan selama 2 (dua) tahun, pria Wales akhirnya mengucapkan salam perpisahan. Terakhir kali saya meneteskan air mata untuk kepergian seseorang dari klub adalah Park Ji Sung pada tahun 2012 dan tentu saja momen pensiun Sir Alex Ferguson, setahun kemudian. Hal itu terulang lagi saat ini. Kebahagiaan dengan kedatangan pemain besar seperti Zlatan Ibrahimovic pun tidak bisa menjadi penghibur yang setara karena kepergian seorang Ryan Giggs.

Kepergian Giggsy dengan alasan ingin melatih sebuah klub secara professional adalah keinginan yang wajar, melihat apa yang telah dicapainya sejauh ini. Keinginannya yang kali ini belum dapat difasilitasi oleh Man United seiring kedatangan Jose Mourinho. Life must goes on. Tak peduli berapapun usia, mimpi tetap harus dikejar.

“Tidak ada pemain yang lebih besar dari klub”, begitu katanya. Namun Ryan Giggs ini telah besar bersama Manchester United. Dua puluh sembilan tahun pengabdian bukan waktu yang sebentar. Hanya sedikit pemain hebat yang bisa melakukan hal itu.Giggsy akan tercatat sebagai salah satu legenda yang akan selalu disambut baik oleh klub. Sampai detik ini saya masih yakin Man United adalah klub besar yang sangat menghargai sejarah dan tradisinya. Ryan Giggs tidak akan terlupakan begitu saja. Nyanyian-nyanyian tentangnya masih akan terus berkumandang di tribun Stretford End “Giggs..giggs… will tear you apart again…”. Ya, dia pasti akan kembali lagi suatu saat dengan modal yang lebih besar dan pengalaman yang lebih banyak untuk membantu melahirkan pesepakbola hebat nan setia pada Manchester United.

 

So long, Welsh Wizard.. Till we meet again

UP Watch

Terpopuler

To Top