Suara Fans

Satu Dekade United Indonesia: Sebuah Autokritik

United Indonesia

“It’s not how big the house is, It’s how happy the home is” -unknown-

Menurut wikipedia, komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Komunitas berasal dari bahasa latin “communitas” yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan dari kata “communis” yang berarti “sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak”

Sebelumnya, perkenalkan: saya adalah sebuah organisme yang memiliki ketertarikan kepada sebuah klub sepakbola bernama Manchester United dan tergabung dalam sebuah komunitas bernama United Indonesia. Pada hari ini, United Indonesia memperingati hari jadinya yang ke-10. Satu Dekade.

United Indonesia resmi didirikan pada tanggal 20 Agustus 2006 oleh enam orang yang kami sebut Founder. Mereka yang ‘menemukan’ ide untuk membentuk komunitas pecinta klub Man United di Indonesia (lagi) setelah mereka lepas dari ‘saudara tua’ yang lebih dulu terbentuk pada tahun 2000. Anggota United Indonesia -yang kemudian disingkat UI- pada awal-awal pembentukan sebagian besar merupakan anggota yang hijrah dari komunitas serupa yang sebelumnya ada. Kepindahan mereka mungkin mengikuti prinsip komunitas tentang “kesamaan”. Ada hal yang sudah berbeda. Bisa jadi itu tujuan atau cara pandang. Jika anda seorang Kristiani, anda tentu pernah mendengar cerita Alkitab tentang kehidupan jemaat mula-mula yang disampaikan dalam kitab Kisah Para Rasul. Mereka berkumpul setiap hari, bersekutu, dan bertekun dalam pengajaran rasul-rasul tentang firman Tuhan. Mereka berbagi apa saja yang mereka miliki dan hidup dengan bahagia. Begitulah kira-kira kehidupan ‘jemaat mula-mula’ dari United Indonesia. Mereka berkumpul hampir setiap hari dan bertekun dalam ‘pengajaran’ tentang klub ‘Setan Merah” dari kota Manchester dan bahagia dalam Dunia Georgie Best.

Saya bergabung dengan United Indonesia tepat setelah mereka merayakan ulang tahun yang ke-5. Kala itu yang saya tahu adalah bagaimana mendapatkan teman yang mempunyai ketertarikan sama pada Man United. Saya juga ingin merasakan bagaimana euforia ‘memuja’ tim kesayangan bersama-sama dengan mereka yang memiliki ‘keyakinan’ yang sama. Semuanya adalah tentang bersenang-senang. Setiap hari ada organisme-organisme baru yang menginginkan hal yang sama dengan saya. Komunitas ini semakin besar diiringi dengan segala kompleksitasnya. Sampai pada umurnya yang ke-10 ini, United Indonesia sudah mengembangkan sayap ke seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Lebih dari 100 regional -kami menyebutnya chapter- menyatakan diri sebagai bagian dari keluarga besar UI dengan jumlah member yang sudah melewati angka 10.000. Sebuah angka yang fantastis bagi sebuah komunitas pecinta klub sepakbola yang berada nun jauh di sana.

Semakin banyak kepala, semakin banyak karakter, semakin banyak kepentingan mewarnai pertumbuhan komunitas tercinta ini. Perbedaan pendapat dan pandangan sampai kesalahpahaman sering terjadi. United Indonesia adalah sebuah keluarga. Tidak seorangpun anggotanya akan rela melihat keluarganya diganggu atau perlahan digrogoti oleh ‘penyakit’ dari dalam. Anggota yang memiliki rasa cinta pasti akan melakukan apapun untuk mempertahankan keutuhan keluarganya. Walaupun cara yang dipakai akan berbeda-beda karena cara setiap orang menunjukkan cinta tidaklah sama. Lalu semuanya akan kembali kepada komunikasi. Komunikasi yang baik akan menyelesaikan masalah. ‘Kepala keluarga’ terkadang harus memposisikan diri sebagai sahabat bagi ‘anak-anaknya’ yang sedang merengek atau mengkritik. Jika dia tetap mempertahankan filosofi dan ‘rasa gengsi’ sebagai seorang ‘pencari nafkah’, maka anak-anak tersebut tidak akan bertumbuh dengan baik. Saya teringat oleh kata-kata mantan ketua umum UI yang juga seorang teman dekat, Moris Megaloman -waktu itu sudah tidak berambut merah dan alay-

Setiap kesalahan orang-orang di kepengurusan saya adalah kesalahan saya. Selama saya masih mampu menanggung kesalahan mereka, akan saya tanggung. Selama saya mampu untuk memuaskan setiap pihak, saya akan berusaha. Tetapi kita tidak bisa membahagiakan setiap orang. Terkadang kita gagal. Namun yang penting adalah berusaha sebaik mungkin untuk bekerja tanpa mengharapkan apa-apa“.

Dalam komunitas dengan segala fluktuasinya, Teori Darwin tentang seleksi alam pun mau tidak mau berlaku. “Spesies yang berhasil beradaptasi dengan baik akan terus bertahan hidup, sedangkan yang tidak dapat beradaptasi akan punah“. Banyak spesies yang datang dan pergi. Mereka yang pergi bisa saja sudah tidak bisa beradaptasi dengan kondisi komunitas yang makin kompleks. Atau dengan alasan yang sangat sederhana yaitu rasa jenuh. Saya sendiri pernah merasakan jenuh. Kehidupan berkomunitas itu kadang menjenuhkan. Bertemu dengan orang itu-itu saja akan menjenuhkan. Performa Man United menurun dan tidak sesuai dengan ekspektasi pun sangat menjemukan. Tetapi jika anda menganggap komunitas sebagai ‘rumah’, rasa jenuh itu akan kalah oleh rasa rindu untuk pulang.

Saya merasa sangat bangga menjadi bagian dari keluarga besar ini. Saya mendapatkan sangat banyak di sini dengan hanya bisa memberi sangat sedikit sebagai rasa terima kasih. Saya berada pada titik di mana saya berada sekarang karena keluarga ini. Saya tidak pernah menyesali pilihan saya untuk bergabung dengan keluarga ini. Saya berterima kasih kepada Sang Pencipta setiap kali mengingat apa yang sudah saya lewati dan saya alami di dalam keluarga ini. I couldn’t ask more.

Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Saya mengagumi mereka yang bertahan sedemikian lama. Walaupun mereka sudah tidak intens mengurusi tetek bengek organisasi, saya yakin mereka masih concern terhadap apapun yang tejadi dalam tubuh United Indonesia. Mereka akan selalu ada saat dibutuhkan. Mereka akan selalu ada untuk mengkritik ataupun mendukung. Karena bagi mereka dan sebagian United Indonesia adalah sebuah rumah yang selalu memanggil untuk pulang. Dalam peringatan satu dekade ini, saya mengajak kalian para organisme-organisme yang punya tujuan sama untuk menilik kembali alasan komunitas ini dibentuk. Sekali lagi, semuanya hanyalah tentang bersenang-senang dan berbagi. Bisakah kita hidup lagi seperti ‘jemaat mula-mula’?

Terpopuler

To Top