News

Cerita: Rafael Da Silva, dan Akhir Karir yang Kurang Baik di Manchester United

rafael da silva cerita

Jika kamu bertanya ke fans Manchester United siapa bek kanan terbaik setelah Gary Neville yang pernah bermain untuk klub, maka jawaban mayoritas adalah Rafael Da Silva. Semasa karirnya di United, Rafael merupakan bek muda yang seringkali dipercaya Sir Alex Ferguson mengisi pos sayap kanan sisi pertahanan United. Ia mungkin tidak sebaik Gary Neville dalam bertahan, tapi kecepatannya menyisir dan melepaskan umpan silang dari sisi kanan adalah satu hal yang membuatnya sedikit unggul dari saudara Phil Nevill tersebut. Bahkan, dalam beberapa pertandingan kompetitif, SAF menginstruksikan Orafa, bermain lebih kedepan dan menjadi gelandang kanan, seperti ketika United menghadapi Arsenal di laga FA Cup, beberapa tahun silam.

Didatangkan saat umurnya masih belia kala itu pada tahun 2008, Rafael dan saudara kembarnya digadang-gadang bisa mewarisi sisi kanan dan kiri pertahanan United yang di era sebelumnya juga dihuni oleh si kembar Neville. Perjalanan karir Duo Silva di United pun bisa dikatakan cukup sukses: Tiga gelar Premier League, satu gelar League Cup, tiga gelar Community Shield, satu gelar FIFA Club World Cup Championship, dan menjadi Runner-up di tiga partai final Champions League adalah prestasi yang cukup mentereng untuk seorang pemain muda non-Inggris. Awal karirnya di Inggris, Rafael tak mengalami kendala yang berarti dalam hal adaptasi kultur dan gaya sepakbola Premier League. Fisiknya yang kecil diimbangi dengan kecepatannya yang di atas rata-rata. Hanya ada satu hal yang menjadi kelemahan Rafael sebagai pesepakbola: rentan cedera. Faktor ini juga yang menghentikan 6 tahun karirnya di Manchester United. Yang sedikit mengecewakan adalah, enam tahun karir di United harus diakhiri Rafael dengan cara yang kurang menyenangkan.

rafael da silva cerita 2

Musim kompetisi 2014, Manchester United menunjuk Louis Van Gaal sebagai suksesor David Moyes yang gagal (We stand by Dave Moyes!). Van Gaal semasa masa kepelatihannya dikenal sebagai manajer ekstrim, nyentrik, dan memiliki tabiat dan perangai yang tidak bisa diprediksi oleh pemainnya sekalipun. Masih jelas dalam ingatan fans Manchester United dan fans Premier League ketika LVG, panggilannya, tengah berdiri di pinggir lapangan tiba-tiba menjatuhkan diri, seolah-olah ada sniper yang baru saja menembaknya dari jauh. Atau yang lebih aneh lagi ketika ia melorotkan celananya hingga buah zakarnya terlihat oleh para pemain. Peristiwa ini terjadi ketika ia menangani Bayern Munich, beberapa tahun sebelumnya.

Dalam hal taktikal, Van Gaal bukanlah tipikal pelatih yang gemar dengan pakem empat bek. Saat menukangi Belanda di Piala Dunia 2014, LVG bermain dengan skema dasar 3-5-2, dan mengedepankan sepakbola menyerang Total Voetball yang khas gaya Belanda. Selain itu, ketidaksukaannya terhadap pemain latin menjadi salah satu alasan Van Gaal mencoret Rafael da Silva dari skuat utama United untuk musim 2014-15. Pemain berusia 30 tahun itu pun kemudian bercerita mengenai pencoretannya dari skuat utama di hari pertama LVG melatih di United.

“Ketika klub mengumumkan Van Gaal sebagai manajer berikutnya, beberapa orang berkata kepada saya bahwa ia adalah pelatih yang tidak suka dengan pemain asal Brazil.”

“Mereka mengatakan, Rivaldo saat masih berkostum Barcelona adalah salah satu buktinya. Tapi saya tidak percaya dengan hal tersebut,” komentarnya saat diwawancarai oleh ESPN.

“Musim pertamanya di klub, Van Gaal menghubungi saya dan meminta untuk menemuinya di kantor. Saat itu, ia berkata: ‘kamu boleh pergi.’ Pertemuan itu hanya berlangsung selama satu menit. Dan ia hanya mengatakan hal itu. Tidak lebih.”

“Meninggalkan Manchester United adalah hal yang tidak mudah. Memikirkannya saja membuat saya sedih. Bagi saya, United adalah segalanya, sehingga butuh waktu bagi saya untuk meninggalkan klub yang saya cintai.”

“Dia [Van Gaal] lalu menghubungi saya via pesan teks: ‘Kau tahu sepakbola itu seperti apa.’ Ia sama sekali tidak berbicara denganku, hanya pesan teks, dan berharap yang terbaik.”

“Saya benar-benar tak percaya ketika membaca pesan itu. Saya marah, tapi berusaha untuk tetap baik kepadanya. Saya hanya membalasnya: ‘terima kasih.’

Masih dalam kesempatan yang sama, Rafael bercerita lebih lanjut tentang kejadian yang membuat dirinya tak pernah lagi diturunkan Van Gaal di sisa karirnya di United.

“Suatu waktu, kami berkumpul untuk makan, dan biasanya dia akan berbicara kepada pemain setelah sesi makan berakhir. Ketika itu saya mengalami cedera kepala setelah pertandingan kontra Yeovil Town. Saat Van Gaal tengah berbicara, saya memegangi kepala saya yang masih sakit. Tiga atau empat detik kemudian, ia menghampiriku, memegang kepalaku, dan mengatakan: ‘Mengapa kau tak menghormatiku?’

“Saya lalu berdiri dan berkata: ‘Saya selalu menghormatimu. Saya tak pernah mengatakan apapun yang mendiskreditkanmu.’

“Saya adalah orang yang penyabar, tapi hal itu membuatku kehilangan kesabaran. Itu adalah hal yang membuatku begitu marah, dan saya tak melakukan kesalahan. Beberapa saat kemudian, Antonio [Valencia] menghampiriku dan berujar: ‘Kau tak akan main lagi, bro. Tak ada pemain yang berani membalas Van Gaal.’

“Benar saja, sejak saat itu saya hampir tak pernah diturunkan olehnya. Van Gaal mungkin bukan manajer yang buruk, tapi saya tak suka dengan karakternya.”

“Saya mencintai Manchester United, tapi faktor Van Gaal di klub membuat saya begitu ingin meninggalkan klub. Saya tak bisa lagi berurusan dengannya.”

Setelah meninggalkan United, Rafael kemudian pindah ke Lyon, dan masih menjadi bagian dari skuat Lyon hingga musim ini. Cerita Rafael da Silva dan ESPN ini berlangsung pada tahun 2018 silam.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Views

To Top