Mirwanovic

Menakar Kans Man United di Panggung UCL

man united di ucl

Tiga tahun yang lalu, Champions League kehilangan salah satu daya tarik mereka sebagai kompetisi yang paling bergengsi di daratan Eropa karena Manchester United harus berlaga di kasta yang lebih rendah, Europa League. Bagi sebagian orang, absennya United mungkin tidak berarti apa-apa, terlebih bagi mereka yang kerjaannya memang senang adu argumen dan saling banter di sosial media. Tapi, tak bisa dipungkiri kalau United adalah salah satu elemen vital di Champions League. Jika diibaratkan sebagai senyawa kimia, The Red Devils adalah senyawa karbon yang memiliki sifat unik dan dapat mengikat senyawa-senyawa lainnya. Tidak setuju dengan argumen saya? Ya terserah. Wong yang punya tulisan itu saya. Suka-suka saya dong mau ngomong apa.

Setelah memastikan gelar juara Europa League pada Mei lalu, Jose Mourinho bergerak cepat dan memberi titah kepada Ed Woodward mengenai pemain-pemain yang dibutuhkannya untuk mengarungi musim kompetisi yang jauh lebih padat dan ketat. Romelu Lukaku dan Nemanja Matic akhirnya menjadi kepingan puzzle terakhir United, melengkapi kepingan yang sudah ada sebelumnya. Tujuan Mourinho jelas cuma satu: Champions League.

Musim ini, United tergabung dalam Grup A bersama Benfica, FC Basel, dan CSKA Moscow. Jika ada satu grup selain Grup H yang layak dianggap sebagai Grup Neraka, maka grup tersebut adalah grup A. Bukan. Ini bukan karena saya ingin mendoktrin kalian hingga kalian semau menganggap United adalah tim yang superior (padahal kenyataannya memang seperti itu). Baik CSKA, Basel, maupun Benfica adalah tim-tim langganan Eropa yang sering mengejutkan tim-tim besar. Saya masih ingat dengan baik betapa tidak ramahnya St.Jakob Park, 6 tahun silam, atau Estadio Da Luz yang merepotkan Alex Ferguson, juga enam tahun silam. Coba bandingkan dengan grup B atau C misalnya. Atau grup yang mempertemukan Barcelona dan Juventus. Orang awam sekalipun bisa menebak siapa yang lolos di grup tersebut.

Lalu, bagaimana dengan kans dan peluang Mourinho di UCL musim ini? Apakah Pria Setubal bisa membuat seantero Cheshire berpesta pada Mei nanti?

Jika patokannya adalah materi pemain, presensi Man United tak bisa diabaikan begitu saja. Di musim keduanya menangani klub, Mourinho benar-benar berbenah dengan menambah kedalaman skuat antar lini. Sektor pertahanan yang menjadi titik lemah di musim lalu ditambal dengan masuknya Victor Lindelof. Mourinho juga jelas diuntungkan oleh faktor kembalinya performa Phil Jones. Mendatangkan Nemanja Matic untuk lini tengah sama saja dengan merekrut dua pemain sekelas Michael Carrick. Matic bisa menjaga keseimbangan antar lini, suatu hal esensial yang memang hilang di musim sebelumnya. Lukaku? Perlu bukti dan kalimat hiperbola apa lagi untuk menggambarkan kontribusi Big Rom?

Menjaga konsistensi bukan hal yang mudah, apalagi jika pemain dihadapkan pada jadwal kompetisi yang begitu padat. Satu hal yang perlu diwaspadai adalah faktor bernama complacency. Dalam buku keduanya berjudul Leading, Alex Ferguson menekankan bagaimana complacency bisa mengacaukan tim Manchester United besutannya saat Chelsea mengalahkan mereka, padahal saat itu United sempat unggul 2-0. Saat ini The Red Devils sedang di atas angin. Belum sekalipun mereka mencicipi yang namanya kekalahan, sehingga satu kekalahan saja bisa membuat para pemain kehilangan konsistensi dan fokus pertandingan. Mourinho memang bukan motivator ulung seperti Alex Ferguson. Tapi ia adalah orang yang bisa diandalkan dan mengembalikan mental pemain dengan menggunakan caranya tersendiri.

Salah satu faktor krusial yang bisa membuat Manchester United menjadi juara di Eropa adalah Jose Mourinho itu sendiri. Memang, akan sedikit jomplang jika kita membandingkan materi pemain United dengan Real madrid, Barcelona, atau Bayern Munich yang masih ada satu level di bawah tiga klub besar itu. Tapi, Mourinho adalah manajer yang pernah menyulap tim seperti FC Internazionale yang materi pemainnya biasa-biasa saja pada saat itu, menjadi juara di Eropa. Kalian pikir Young dan Fellaini itu tetap di klub tanpa alasan yang jelas? Hah? Itu karena cuma Mourinho yang bisa menyulap dan membuat mereka mengeluarkan kemampuan terbaik dan menjadi kartu truf di musim ini. Mourinho, seperti yang selalu saya katakan di tulisan-tulisan saya di media lain, adalah pelatih pragmatis tapi pola berpikirnya selalu berkembang dan tidak terpaku pada satu pakem formasi. Saat menghadapi Barcelona di semifinal tahun 2010, Inter yang hanya bermain dengan 10 pemain bisa meredam Blaugrana. Apa yang dilakukan Mourinho saat itu? Menginstruksikan 10 pemainnya untuk bertahan di kotak penalti, dan tidak membiarkan Barcelona melepaskan umpan terobosan di sepertiga terakhir area serangan. Dibutuhkan pemikiran dan taktik ekstra untuk menghadapi tim sekelas Real Madrid atau Barcelona. Dan disitulah tugas seorang Jose Mourinho. Against all odds.

*****

Saya adalah orang yang memiliki keyakinan, bahwa segala sesuatu di dunia ini terjadi bukan karena suatu kebetulan. Selalu ada sebab dan akibat yang mengikat peristiwa yang terjadi di sekeliling kita. Maka, ketika manusia titisan Dewa dan Tuhan dalam Sepakbola itu bergabung bersama Setan Merah, saya pun memiliki keyakinan yang kuat kalau Dewa Sepakbola sudah membuat skenario sendiri. Menjadi bagian dari Setan adalah satu-satunya cara yang bisa membuat dirinya merasakan trofi Big Ears di pengujung karir.

Artikel ini sebelumnya telah dipublikasikan di UC Media dengan link original di sini

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terpopuler

To Top