Stories

Andai Saja Arsene Wenger Diberi Privilege Seperti Alex Ferguson…

Stojkovic dan Arsene Wenger

Ketika Alex Ferguson mengakhiri rezim di Manchester United setelah menahkodai klub selama 27 tahun (masih lamaan Pak Harto), Fergie menunjuk langsung David Moyes sebagai suksesornya. Kita semua tahu akhir dari penunjukan itu. Moyes hanya bertahan 1 musim sebelum akhirnya dipecat.

Lima tahun berselang, Arsene Wenger yang merupakan seteru abadi Alex Ferguson mengumumkan pengunduran dirinya sebagai manajer klub Arsenal. Berpisah setelah 22 tahun bersama bukanlah keputusan yang mudah. Wenger adalah Arsenal. Maka, wajar kemudian jika Wenger diberi hak istimewa untuk bisa menunjuk langsung suksesornya, sama seperti yang dilakukan oleh Alex Ferguson saat menunjuk Moyes. Namun rupanya hal itu tidak ada dalam kamus petinggi klub. Di masa-masa akhir jabatannya di klub pun, Ivan Gazidis, sang pemilik klub berupaya keras menyingkirkan Wenger dengan cara-cara halus sehingga saat ia angkat kaki nanti tak ada lagi campur tangan dari le professeur. Pada akhirnya, Gazidis menunjuk Unai Emery sebagai pengganti Wenger. Belakangan, Arteta akhirnya kembali ke Arsenal menggantikan Emery yang dipecat.

Andai saja Wenger mendapat hak istimewa tersebut, ia pasti sudah tentu akan menunjuk salah satu mantan pemain sebagai penggantinya. Bukan Arteta, Patrick Vieira, atau Thierry Henry. Ia adalah Dragan Stojkovic.

“Saya menginginkan Stojkovic sebagai penerus di klub. Ada banyak alasan untuk menunjuknya.” -Arsene Wenger, kepada media Serbia, Vecernje Novosti, 2011-

Siapa Dragan Stojkovic?

Namanya memang asing di telinga fans Inggris. Namanya tidak terlalu mendunia. Karirnya di lapangan hijau pun tidak begitu mentereng. Tetapi di tanah kelahirannya, ia dianggap sebagai salah satu pemain besar yang pernah ada dalam sejarah sepakbola Serbia dan Yugoslavia. Satu-satunya prestasi mentereng selama karir Stojkovic adalah ketika namanya ada dalam daftar team of the tournament, disandingkan dengan pemain sekaliber Paul Gascoigne, Diego Maradona, dan Lothar Matthaus. Penghargaan tersebut didapatkannya tak lepas atas kontribusi dan performanya bersama timnas Yugoslavia di Piala Dunia 1990.

Di level klub, ia adalah pemain istimewa di klub Serbia, Red Star Belgrade. Kepindahannya ke Prancis dan membela Marseille kemudian menjadi awal dari semua ketidakberuntungan yang berpihak padanya. Empat tahun karirnya di Marseille berakhir dengan mengecewakan. Dragan Stojkovic harus menghadapi cedera yang selalu menimpanya. Tahun 1991/92, ia menjalani masa peminjaman di Verona, yang juga berakhir dengan mengecewakan.

Saat usianya menginjak 29 tahun, pemain yang semasa karirnya bermain sebagai playmaker itu memutuskan berpisah dengan sepakbola Eropa dan menjajal peruntungannya di tanah Asia. Nagoya Grampus Eight menjadi pilihannya. Tak pelak, kepindahannya ke Negeri Sakura membuat rakyat Serbia bersedih. Bagi mereka, sangat disayangkan pemain sekaliber Stojkovic gagal bersinar di level Eropa. Stojkovic menghabiskan tujuh musim membela Nagoya Grampus. Tahun 2008, legenda Serbia itu memutuskan kembali ke lapangan, namun sebagai pelatih tim.

Nagoya Grampus, dan Perkenalannya dengan Arsene Wenger

Desember 1994, tepatnya beberapa bulan setelah ia resmi berseragam Nagoya, manajer kelahiran Strasbourg, Prancis tiba di Jepang dan menerima tawaran Nagoya untuk melatih klub. Arsene Wenger nama dari manajer itu. Tak butuh waktu lama bagi Stojkovic untuk nyetel dengan filosofi bermain yang diusung Wenger. Di musim perdananya bersama Grampus, Wenger sukses menyabet gelar manajer terbaik J. League, sedangkan Stojkovic menyabet penghargaan sebagai pemain terbaik liga. Masih di musim yang sama, Nagoya mengakhiri musim di peringkat kedua klasemen liga, dan berhasil membawa pulang gelar Emperor’s Cup yang merupakan gelar pertama sepanjang sejarah klub yang bermarkas di Nagoya, Aichi, Jepang.

“Walaupun kami hanya bekerja sama selama 2 musim, namun dia (Wenger) adalah inspirasi saya untuk melanjutkan karir sebagai pelatih,” kenang Stojkovic.

Karir Kepelatihan, Adopsi Taktik Le Professeur

Setelah pensiun, Stojkovic mengemban jabatan sebagai presiden FA Yuguslavio dan Red Star Belgrade, sebelum akhirnya kemudian kembali ke Nagoya dan menangani mantan klubnya tersebut pada tahun 2008. Hanya butuh dua musim bagi Stojkovic untuk membuktikan kemampuannya. Ia membawa Grampus menyabet gelar liga perdana mereka dengan menerapkan filosofi dan gaya bermain yang diterapkan oleh Wenger, satu dekade sebelumnya.

Seperti halnya Arsene, Stojkovic mengusung gaya bermain dengan mengandalkan penguasaan bola dengan gaya sepakbola menyerang. Untuk menunjang filosofi bermainnya, Stojkovic mengadopsi beberapa teknik latihan yang diterapkan oleh Wenger. Teknik ini diperolehnya saat mengunjungi kamp pemusatan latihan Arsenal beberapa tahun lalu.

Tahun 2015, Stojkovic mencoba tantangan lain dengan menangani salah satu klub asal Cina, Guangzhou R&F. Musim perdana bersama Guangzhou berakhir dengan prestasi menyelamatkan klub itu dari degradasi, dan hampir lolos ke babak kualifikasi Liga Champions Asia di musim berikutnya.

Secara kasat mata, apa yang diperlihatkan oleh Stojkovic memang masih jauh dari prestasi Arsene Wenger. Tetapi bagi Wenger, apa yang dilakukan oleh mantan pemainnya tersebut adalah hal yang luar biasa.

“Kami berdua memiliki ide dan pandangan yang sama tentang sepakbola. Kami menginginkan sepakbola yang sempurna. Saya tahu, ketika tiba masanya dia menjadi pelatih, dia akan memainkan sepakbola menyerang dengan intensitas umpan yang banyak. Dia telah membuktikan dan memerlihatkan kalau ia akan menjadi pelatih yang hebat.”

Namun pada akhirnya nama Dragan Stojkovic tak pernah dianggap oleh para petinggi Arsenal untuk menjadi suksesor seorang Arsene Wenger, meskipun pujian dan rekomendasi tersirat itu terucap langsung dari mulut mantan manajer The Gunners. Bagi Gazidis, karir pelatih yang cukup bagus di Asia belum cukup dijadikan jaminan untuk menangani tim sebesar Arsenal. Resikonya mungkin terlalu tinggi.

Atau mungkin saja Arsenal, seperti yang dikatakan orang pada umumnya, adalah tim yang merekrut manajer dengan menyesuaikan primbon dan unsur nama yang ada pada calon manajer mereka.

Seperti halnya unsur Arsenal pada nama Arsene Wenger, atau Emery yang mengacu pada stadion Arsenal, Emirates….

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Views

To Top